Search

Tampilkan postingan dengan label Etika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Etika. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Juli 2011

Optimis, Mental dan Juara


Apapun bentuk peluang usaha yang Anda pilih baik itu peluang usaha modal kecilatau peluang usaha modal besar pastikan usaha yang Anda pilih sesuai dengan hobi Anda dan pastikan Anda memulai dengan semangat dan pandangan yang optimis.
Jika tidak ada semangat bagaimana Anda bisa membangun usaha, jika tidak ada pandangan yang optimis bagaimana Anda bisa menjalankan suatu bisnis. Jika Anda tidak memiliki hal itu cukup sulit membangun suatu usaha atau bisnis.
Banyak hal lainnya yang sangat mempengaruhi cara Anda membangun bisnis, yaitu :
  • Mental
Miliki mental sang juara, mental dimana tidak pernah menyerah dan tidak pernah putus asa dalam menghadapi setiap tantangan yang akan di hadapi saat membangun usaha.
  • Visi
Miliki visi yang pasti dalam membangun suatu bisnis. Tanpa adanya visi yang baik dan jelas bagaimana usaha / bisnis tersebut bisa berjalan dengan baik.
  • Misi
Misi juga harus jelas dan miliki misi yang baik.
  • Modal
modal di perlukan untuk biaya – biaya operasional seperti membayar gaji, promosi, sewa tempat dan hal penting lainnya.

Minggu, 10 April 2011

Lima Langkah Efektif Mencari Kerja

VIVAnews - Ingin segera keluar dari kantor lama? Cari pekerjaan baru dengan cara yang efektif. Menurut Quinn Price, penasihat karier dan ahli manajemen, melakukan hal detail dalam mencari pekerjaan bisa mempermudah dan mempercepat dapatkan pekerjaan baru.
Price memberikan lima trik detail bagi Anda yang sedang mencari-cari pekerjaan baru. Ketahui trik-triknya yang dilansir dari Thirdage.com, agar Anda bisa cepat mendapatkan pekerjaan.
1. Detail pekerjaan
Dalam curiculum vitae (CV), tuliskan secara jelas detail pengalaman Anda. Buatlah yang membacanya mengerti dan mengetahui kelebihan Anda. Akan lebih baik jika Anda menonjolkan sesuatu yang sangat mereka butuhkan. Jadi tak ada salahnya untuk melakukan sedikit riset dan selalu memperbarui CV sebelum mengirimkannya.
2. Kata kunci
Masukan frase seperti ‘team-oriented problem solver’ saat mengirim surat lamaran secara online atau pun pos. Bukan hanya mencuri perhatian staf divisi  sumber daya manusia menyortir lamaran, tetapi juga membantu resume Anda lebih mudah ditemukan secara online.
3. Jaringan
Manfaatkan semua jaringan yang Anda miliki, mulai dari teman kecil, tetangga, teman sekolah, teman kuliah hingga teman kerja. Lagipula, bagi perusahaan, lebih mudah merekrut seseorang yang sudah dikenal baik oleh karyawannya. Jadi, jangan segan untuk menanyakan lowongan pada orang-orang yang Anda kenal dekat.
4. Kenali kelebihan Anda
Daripada menuliskan banyak hal yang pernah Anda kerjakan sebelumnya, lebih baik tuliskan prestasi menonjol yang pernah dilakukan dalam pekerjaan. Cara ini membuat Anda terlihat lebih fokus menunjukan kelebihan.
5. Lakukan setiap hari
Setiap hari lakukan sesuatu hal yang terkait dengan mencari pekerjaan. Misalnya memperbarui CV, mengirimkan setidak dua lamaran dalam satu hari atau menghubungi teman untuk menanyakan lowongan. Menurut Price, jika dilakukan terus-menerus akan mempercepat Anda mendapatkan pekerjaan baru. 

Kamis, 29 Oktober 2009

Profesional dan Etika Profesi

Kewajiban bekerja
Secara syar’i seorang mukmin dituntut untuk bekerja memenuhi kebutuhan dirinya dan keluarganya. Seorang mukmin harus memiliki kekuatan, merasa cukup dengan yang halal serta menjaga dirinya dan keluarganya dari meminta-minta. “Sungguh seseorang yang berangkat ke gunung, membawa tambangnya, lalu memikul seonggok kayu bakar diatas punggungnya, lalu dijualnya, yang dengannya Allah menjaga wajahnya, adalah jauh lebih baik baginya daripada meminta-minta kepada orang lain, mereka memberi atau menolaknya”. HR Bukhari dari Jubeir.

Dan jika seseorang mempunyai tingkat kesejahteraan hidup yang sangat baik, sehingga merasa tidak perlu bekerja, maka hendaknya dia bekerja untuk kepentingan masyarakat sekitarnya. Sesungguhnya dari masyarakat dia telah mendapatkan sesuatu maka semestinyalah dia memberikan sesuatu kepada masyarakat itu. Inilah nilai-nilai Islam dalam hal hubungan sosial antara individu-individu dengan masyarakatnya. “… Saling tolong-menolonglah kamu sekalian atas dasar kebaikan dan taqwa…” Al Maidah:2.

Profesionalitas
Nilai penting dalam bekerja adalah ihsan (baik) dan jihad (bersungguh-sungguh). Islam tidak hanya memerintahkan bekerja tetapi bekerja dengan sebaik-baiknya. Maka sepatutnya seorang muslim selalu ihsan dalam bekerjanya dan dilakukan dengan penuh kesungguhan, mengerahkan segala kemampuannya untuk hasil yang terbaik dan menjaga kualitas proses atau cara mencapainya. Dalam penggalan dialog yang termasyhur antara Rasulullah saw dengan Jibril ketika ditanya tentang ihsan “… engkau beribadah seolah-olah engkau melihat Allah, dan jika engkau tidak melihatNya, maka sesungguhnya Allah melihatmu”. Dan dalam sabda beliau yang lain “Sesungguhnya Allah mencintai jika seseorang melakukan suatu pekerjaan hendaknya dilakukannya secara itqon (profesional)”. HR Baihaqi dari Siti Aisyah ra.

Dalam dunia kerja, profesional yang ihsan dengan jiwa jihad mempunyai moto always deliver the best for his/her employer. Dalam pergaulan di masyarakatpun, profesional akan selalu aktif berkontribusi kepada masyarakat sekitarnya.

Landasan Akhlak Profesional
Seorang profesional berkeyakinan dalam bekerja dan berusaha adalah merupakan bagian yang tak terpisahkan dari ibadahnya. Agar suatu pekerjaan atau usaha mempunyai nilai ibadah, setelah berniat (ihsan dan jihad) maka landasan akhlak dalam melakukannya adalah suatu keharusan. Inilah yang disebut etika profesi yang bersifat universal, berlaku sepanjang jaman, dalam jenis pekerjaan atau usaha apapun, dalam masyarakat manapun, sehingga tidak hanya milik umat Islam saja tetapi milik seluruh umat manusia. Dalam Islam, etika profesi ini terkumpul dalam 5 akhlak pokok: Shiddiq, Istiqomah, Fathonah, Amanah dan Tablig. Kelima hal tersebut harus ada dalam diri seorang profesional dalam bentuknya yang paling sempurna.

Shiddiq (Honest) artinya mempunyai kejujuran dan selalu melandasi keyakinan, ucapan dan perbuatan dengan nilai-nilai kebenaran. Tidak ada kontradiksi dan pertentangan yang disengaja antara ucapan dan tindakan. Dalam dunia kerja dan usaha, kejujuran akan tampil dalam bentuk kesungguhan dan ketepatan (mujahadah dan itqon) berupa ketepatan waktu, janji, pelayanan, laporan, mengakui kelemahan diri sendiri untuk diperbaiki serta tidak berbohong dan menipu.

Istiqomah (Consistency) artinya konsisten dalam nilai-nilai kebaikan meskipun menghadapi godaan dan tantangan. Istiqomah dalam dunia kerja akan tampil dalam bentuk kesabaran, keteguhan dan keuletan sehingga menghasilkan suatu karyayang optimal. Profesional yang istoqomah akan mendapatkan ketenangan dalam bekerja dan berkarya sehingga lebih mudah mendapatkan solusi dari persoalan yang dihadapi.

Fathonah (Competency) artinya mengerti, memahami dan menghayati segala yang menjadi tugas dan kewajibannya. Profesional dengan etika fathonah memiliki kreativitas yang tinggi dan mampu menelurkan inovasi. Kreativitas dan inovasi tersebut adalah buah manakala profesional tersebut selalu berusaha menambah pengetahuan dalam berbagai bidang, tidak terbatas dalam bidang kerja/usahanya saja tetapi dalam lingkup yang lebih luas.

Amanah (Accountability) artinya bertanggungjawab dalam melaksanakan setiap tugas dan kewajiban yang diemban. Seorang profesional yang amanah akan berprinsip bahwa setiap jabatan yang diembannya dan setiap assignment yang diberikan kepadanya nantinya akan dipertanggungjawabkan tidak hanya kepada atasan atau pemegang saham perusahaan tetapi juga kepada Allah SWT kelak.

Tablig (Teach by Role Model) artinya memberi panutan sekaligus mengajak lingkungan kerjanya (peer group dan subordinate) dalam melaksanakan tugas selalu mempraktekkan nilai-nilai kebenaran. Profesional yang bertablig dengan cara memberikan contoh yang baik ini akan membentuk suatu tim yang solid dibawah koordinasinya. A tim building process will only be successful if the leader act as the best role model.

_____________
Daftar Pustaka:
1. Peran Nilai dan Moral dalam Perekonomian Islam, DR. Yusuf Qordhowi.
2. Islam Aplikatif, DR. KH. Didin Hafidhuddin, M.Sc.

Tugas Etika Profesi

Etika Profesi

1. Pengantar

Etika Profesi, yang penulis lihat mungkin agak tereliminir dari aktualisasi di lapangan atau dari minat para mahasiswa – karna jauh dari teknis, yang bisa memenuhi dahaga keingintahuan - ternyata menyimpan pesona (kelebihan, advantage) lain tersendiri.

Berangkat dari pemikiran bahwa Etika Profesi – yang berhubungan dengan etos kerja – ini sanggup menjadi sisi positif bagi karakteristik seseorang (maupun institusi & korporasi), yang sulit ditiru. Ia tergambar dari operasional keseharian tiap unit, ia mempengaruhi (langsung atau tidak) efektifitas dan efisiensi, baik waktu, fikiran, emosi & sumber daya, yang menjadi kekuatan untuk lebih kompetitif. Ia lebih atau sama pentingnya dengan semua resource yang dimiliki oleh seseorang (atau badan).

Maka telah penulis ‘temukan’ betapa hal ini bisa merombak paradigma kitatentang ke-nonteknis-an Etika Profesi (jika dianggap sebagai satu disiplin ilmu maupun tidak). Bahwa ia sanggup sinkron dengan tujuan akhir, kultur, dan operasional profesi kita yang beragam.

2. Deskripsi Etika dan Etiket

Demi meluaskan sudut pandang, dan mencari titik temu yang mungkin tak kasat mata atau masih absurd terasa, pertama akan dibahas etimologis dari etika & etiket itu, beberapa perumpamaan, kaitannya dengan disiplin ilmu lain, dan posisinya diantara bidang yang terkait. Karna kita kenal selain etika profesi, pada susunan hirarkinya ada Etika Bisnis, Etika Investasi, dll, yang jika dikaji lebih jauh adalah tentang apa yang penulis sebut TTM (Tindak Tanduk Manusia)....”.

2.1 Dari sudut Etimologi (kebahasaan)

(Merangkum definisi dasar dari berbagai sumber...)

Etika

1. Berasal dari bahasa Yunani kuno.
• Ethos (tungal) : tempat tinggal yang biasa, padang rumput, kandang, kebiasaanadat, akhlak,watak, perasaan, sikap, cara berpikir.
• Ta etha (jamak) : adat kebiasaan.
2. Dalam Kamus Bahasa Indonesia yang lama (Poerwadarminta, sejak 1953 - mengutip dari Bertens, 2000)
• Etika berarti : “ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak (moral)”.
3. Kamus Besar Bahasa Indonesia yang baru (Depdikbud, 1988 - mengutip dari Bertens 2000) :
• ilmu tentang apa yang baik & buruk dan tentang hak & kewajiban moral (akhlak);
• kumpulan asas/nilai yang berkenaan dengan akhlak;
• nilai mengenai benar & salah yang dianut suatu golongan masyarakat.

Etiket

1. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia beberapa arti kata “etiket” :
• Etiket (Belanda) secarik kertas yang ditempelkan pada kemasan barang-barang (dagang) yang bertuliskan nama, isi, dan sebagainya tentang barang itu.
• Etiket (Perancis) adat sopan santun atau tata krama yang perlu selalu diperhatikan dalam pergaulan agar hubungan selalu baik.

2.2 Benang merah antara etika dan etiket

Adalah mengatur moral, tingkah laku, dimana etiket lebih ke sopan santun kita (‘hanya’) dalam sosial, dan etika lebih merujuk pada motivasi internal untuk selalu bertindak benar, bagus, dan tepat. Dalam (penyesuaian) sosial ataupun tidak.

2.3 Lalu apa perbeda Etiket dan Etika ?

K. Bertens dalam bukunya “Etika” (2000) memberi 4 perbedaan Etiket dan Etika :

Perbedaan 1
Etiket menyangkut bagaimana (tata acara) suatu perbuatan harus dilakukan manusia.
Misal : Ketika menyerahkan sesuatu kepada orang lain, gunakan tangan kanan. Jika tidak, maka dianggap melanggar etiket.

Etika menyangkut cara dilakukannya suatu perbuatan sekaligus memberi norma dari perbuatan itu sendiri.
Misal : Dilarang mengambil barang milik orang lain tanpa izin karena sama artinya dengan mencuri. “Jangan mencuri” merupakan suatu norma etika. Di sini tidak dipersoalkan apakah pencuri tersebut mencuri dengan tangan kanan atau kiri.

Perbedaan 2
Etiket hanya berlaku dalam situasi dimana kita tidak seorang diri (ada orang lain di sekitar kita). Bila tidak ada orang lain di sekitar kita atau tidak ada saksi mata, maka etiket tidak berlaku.
Misal : Saya sedang makan bersama bersama teman sambil meletakkan kaki saya di atas meja makan, maka saya dianggap melanggat etiket. Tetapi kalau saya sedang makan sendirian (tidak ada orang lain), maka saya tidak melanggar etiket jika saya makan dengan cara demikian.

Etika selalu berlaku, baik kita sedang sendiri atau bersama orang lain.
Misal : Larangan mencuri selalu berlaku, baik sedang sendiri atau ada orang lain. Atau barang yang dipinjam selalu harus dikembalikan meskipun si empunya barang sudah lupa.

Perbedaan 3
Etiket bersifat relatif. Yang dianggap tidak sopan dalam satu kebudayaan, bisa saja dianggap sopan dalam kebudayaan lain.
Misal : makan dengan tangan atau bersendawa waktu makan.

Etika bersifat absolut. “Jangan mencuri”, “Jangan membunuh” merupakan prinsip-prinsip etika yang tidak bisa ditawar-tawar.

Perbedaan 4
Etiket memandang manusia dari segi lahiriah saja. Orang yang berpegang pada etiket bisa juga bersifat munafik.
Misal : Bisa saja orang tampi sebagai “manusia berbulu ayam”, dari luar sangan sopan dan halus, tapi di dalam penuh kebusukan.

Etika memandang manusia dari segi dalam. Orang yang etis tidak mungkin bersifat munafik, sebab orang yang bersikap etis pasti orang yang sungguh-sungguh baik.

3. Mengapa orang yang beretiket berkemungkinan untuk munafik, tetapi orang yang beretika tidak mungkin munafik


Menurut perspektif penulis pribadi, ini semacam formula dasar dalam kajian moral, etika, etiket. Dimana secara logis “tiap manusia punya kebutuhan”, jika “kita adalah manusia” maka “kita punya kebutuhan”.

Finansial-nonfinansial, biologis-psikologis, mental-spiritual, real-absurd, jangka pendek-jangka panjang, dan lain sebagainya.


Namun selenjutnya, apakah hanya kita manusia di lapangan (dunia) real-nya Tentu bukan, dan inilah peran Etika Profesi (dari sudut pandang bahwa manusia butuh berprofesi), Etika Bisnis (bahwa tiap mnusia punya bisnisurusannya sediri), Etika Investasi (tiap manusia punyi visi dalam berivestasi), dll. Agar “persaingan tak sehat” bisa diminimalisasi (jikalau tak bisa dihilangkan secara permanent, berhubung dari sudut sosial tiap interaksi akan menimbulkan setidaknya konflik, kerjasama, dan persaingan)

Lalu, mengapa orang yang beretiket berkemungkinan untuk munafik Merujuk pada definisi yang telah dikemukakan beberapa ahli diatas sebelumnya, etiket lebih ke “sopan santun didepan orang”, ia belum menjamin bahwa seseorang benar benar sopan, bisa jadi itu hanya tampak luar, penampilan semu, namun menyimpan sesuatu “yang tersembunyi” dibalik itu.

Tetapi orang yang beretika tidak mungkin munafik, karna dalam dirinya tertanam jiwa, intuisi, dan motivasi internal untuk selalu bersikap dan bertindak baik, bagus dan tepat, dimanapun “posisinya”. Jika tidak mempunyai sifat tersebut berarti seseorang belum bisa disebut beretika, atau “hanya setengah-setengah”.

Adapun alasan “dorongan” internal beretika tersebut bisa disebabkan ke-tauhid-annya yang matang (bukan masalah reliji), bahwa Tuhan (Sang Pencipta) selalu mengetahui tindakannya. Atau kultur, tradisi, kebiasaan yang tertanam sejak kecil. Ataupun kesadaran lain seperti mengetahui bahwa beretika atau beretos kerja (sebagai seorang profesional) merupakan nilai lebih dari dirinya, yang ia sadari ini menyangkut karakteristiknya (juga institusi & korporasi tempat ia berada) yang sulit ditiru, dan ini tergambar dari operasional kesehariannya, ini mempengaruhi (langsung atau tidak) efektifitas dan efisiensi, baik waktu, fikiran, emosi & sumber daya, yang menjadi kekuatannya untuk lebih kompetitif. ini lebih atau sama pentingnya dengan semua resource yang dimilikinya (atau kelompok kerjanya). Inilah yang akan membangun reputasi, dan selanjutnya mempertahankan pestasinya.

3. Penutup

Maka telah kita ketahui bahwa Etika dan Etiket merupakan aspek penting bagi kita seorang profesional/praktisi. Dengan memegang Etika Profesi bukanlah beban bagi kita, namun pembentuk, pengarah, dan invisible manager (penuntut/pembimbing tak kasat mata) bagi kita.

...Bahwa relatif mudah mencapai tingkatan yang kita inginkan, namun untuk bertahan disana, dituntut watak..

...Dan watak bukanlah yang tampak, namun adalah yang tidak tampak...