Search

Tampilkan postingan dengan label Fotografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fotografi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 April 2011

Tips Jitu Fotografi Untuk Komposisi Gambar


Jasa Fotografer - Komposisi gambar untuk fotografi memang sangat penting karena itu adalah bagian dari keindahan objek yang anda foto. Isinya bukan aturan tapi panduan, karena sekali lagi komposisi adalah masalah selera.

* Tarik perhatian ke arah subyek utama dalam foto. Manfaatkan warna, bentuk, cahaya    
   atau garis supaya foto tampak kuat dan menyedot perhatian

* Sederhana, makin sederhana susunan foto anda makin kuat kesan yang ditimbulkan
* Kurangi elemen yang tidak seirama. Jika menurut anda ada elemen tertentu yang 
   merusak irama dan keharmonisan foto, singkirkan – tutupi – atau pindahkan sudut 
   pemotretan supaya elemen tersebut hilang
* Penuhi seluruh isi frame dengan obyek utama. Kadang foto yang kuat kesannya 
   adalah foto yang tanpa background sama sekali
* Jangan biarkan ruang kosong mendominasi foto
* Cek daerah disekitar garis frame, jangan biarkan ada tangan, kaki atau bagian penting 
   obyek terpotong tanpa alasan kuat
* Maksimalkan penggunaan point of view (titik pandang) yang menarik, jangan melulu 
   memotret dari depan subyek
* Jangan lupa rule of third. Tarik garis imajiner yang membagi foto menjadi 9 bagian 
   sama besar. Tempatkan obyek utama di persimpangan garis-garisnya
* Saat memotret orang, usahakan selalu agar mata berada diatas garis tengah foto
* Bagian paling terang dalam foto adalah bagian yang paling menyedot perhatian mata. 
   Taruh obyek utama disana Sandcastle on Morro Strand State Beach, with Morro Rock 
   visible in background, after sunset 24 Aug 2009
* Background lah yang memperkuat kesan. Jadi jangan biarkan background mematikan 
   obyek utama. Baca lebih jauh tentang background disini.
* Memotret secara horisontal memperkuat kesan lebar dan secara vertikal memperkuat 
   kesan tinggi
* Tajamkan mata untuk mengenali pola yang berulang, manfaatkan
* Tajamkan mata untuk mengenali pola simetri, manfaatkan
* Leading line dan kurva-S selalu menyenangkan dilihat
* Untuk memotret anak-anak, jongkoklah. Sejajarkan kamera dengan mata mereka

* Hindari menaruh titik perhatian tepat ditengah-tengah foto
* Hindari meletakkan garis horison tepat di tengah foto, usahakan horison ada di 
   sepertiga atas atau bawah
* Jangan biarkan garis horison menabrak bagian obyek yang penting
* Cek, cek dan cek lagi sesaat sebelum memencet shutter. Pastikan apa yang tampak 
   di viewfinder sesuai keinginan anda

Minggu, 27 Maret 2011

Ragam Ukuran Dalam Cetak Foto


Catak Foto - Dibawah ini merupakan format umum ukuran cetak foto yg biasanya diakhiri dgn huruf R (2R,3R,dll), Sebenarnya ukuran ini tidak mutlak, mengapa bisa demikian? Itu disebabpkan tiap - tiap penyedia jasa cetak foto mempunyai standart cetak yg berbeda.

Di Bawah ini adalah ukuran yg sering dipakai utk men cetak foto :


Dalam CM
Kode
Dalam Inchi
6.35 x 8.89
2R
2.5 x 3.5
8.89 x 12.7
3R
3.5 x 5
10.6 x 15.24
4R
4 x 6
12.70 x 17.78
5R
5 x 7
15.24 x 20.32
6R
6 x 8
20.32 x 25 40
8R
8 x 10
40.64 x 50.80
16R
16 x 20
50.80 x 60.96
20R
20 x 24
60.96 x 80.01
24R
24 x 31.5



Kamera Digital - Cara Foto Terbaik Dengan Kamera Digital

Untuk mendapatkan hasil foto yang terbaik dengan kamera digitaltentunya ada tehnik tertentu yang harus anda jalani dan cara tertentu dalam menghasilkan ganbar yang bagus berikut ini ada beberapa tips untuk anda saat memotret dengan kamera digital:


Cahaya matahari – Salah satu keterampilan kunci fotografer profesional adalah kemampuan mereka untuk memanfaatkan cahaya matahari untuk keuntungan mereka. Sebagai soal fakta, cahaya matahari alami pencahayaan yang indah menawarkan kesempatan untuk gambar terbaik dengan warna dan lebih detail. Namun, waspadalah terhadap sinar matahari cerah dan overhead karena dapat melemparkan bayangan kasar dan lebih buruk, mencuci detail di wajah. Selalu mencoba untuk menembak dengan matahari di belakang Anda. Kamera

Kondisi berawan – Berlawanan dengan apa yang banyak orang percaya, kondisi mendung benar-benar memberikan yang terbaik dari bakat kreatif Anda untuk menangkap gambar hati. Jika Anda tahu bagaimana menggunakan kamera digital terampil, Anda dapat benar-benar mencapai menyoroti menarik dengan suasana hati yang disempurnakan di bawah langit mendung. Kuncinya adalah untuk membuat pop up warna kontras dengan langit mendung. Hanya cukup berhati-hati untuk membungkus kamera Anda dalam beberapa kantong plastik dengan lubang untuk membiarkan kantung melalui lensa.

Foto waktu malam – malam bisa menjadi waktu yang menyenangkan untuk mengambil gambar spektakuler bahkan ketika Anda mematikan lampu kilat. Untuk menghindari kemungkinan gambar kabur, pastikan bahwa Anda tetap stabil dan menetapkan kecepatan rana lamban untuk membiarkan masuk cukup cahaya lebih baik lagi, cobalah menempatkan kamera digital pada tripod dan mengatur timer untuk menembak menghindari risiko gerakan kamera hanya ketika anda menekan pelatuk. Kamera Digital

Menggunakan flash – Flash dapat menjadi alat kritis kamera digital untuk mencapai hasil yang luar biasa. Anda hanya perlu menjaga jarak yang tepat dari subjek Anda. Pada umumnya, lampu kilat dalam kebanyakan kamera memiliki jangkauan sepuluh meter. Oleh karena itu, jika Anda terlalu jauh ke subjek Anda, Anda mungkin berakhir dengan gambar-gambar gelap. Sebaliknya, jika Anda terlalu dekat, Anda mungkin mendapatkan foto overexposed flash.

Posisi kamera – Sering kali, bagaimana Anda memegang kamera digital ke subjek Anda dapat membuat semua perbedaan antara foto yang baik dan menakjubkan satu. Anda hanya perlu mengubah sudut untuk menangkap gambar kreatif. Selain itu, hanya memindahkan kamera Anda dalam kaitannya dengan subjek. Hanya untuk melihat apa yang terbaik, eksperimen sedikit dengan Anda komposisi oleh zooming in dan zooming out. Hasil sering bisa sangat bermanfaat dan menyenangkan. Kamera

Latar Belakang elemen – elemen Latar belakang subjek Anda berpotensi dapat membuat atau merusak hasil usaha fotografi Anda. Oleh karena itu, Anda harus sadar akan kekacauan dan mengganggu unsur-unsur di belakang subjek. Cobalah untuk menghindari mengambil foto dengan latar belakang bersaing atau sibuk. Selain itu, carilah menghubungkan setiap objek dengan subjek dan menghapusnya sebelum mengambil foto.

Demikina tipsnya semoga bermanfaat untuk anda.

Sabtu, 24 Oktober 2009

Fotografi : Gempa dalam Photo Story

Fotografi amat mengenal photo story, yaitu rangkaian foto yang disusun hingga membentuk cerita dalam representasi peristiwa. Bisa saja kumpulan foto hanya menjadi foto terpisah dan bukan merupakan photo story jika tidak terintegrasi dalam kohesi naratif.


Sebenarnya, photo story tidak hanya ditampilkan di media sewaktu peristiwa terjadi. Banyak tema non-spot news yang bisa disajikan dalam bentuk photo story. Misalnya, kehidupan malam, workaholic, homeless, pertambangan ilegal, kehidupan pengguna obat terlarang beserta tempat rehabilitasinya, maupun kecanduan minuman alcohol. Photo story adakalanya dibuat dalam beberapa menit ketika mengabadikan kejadian.


Tetapi, ada pula pembuatan photo story yang memerlukan waktu bertahun-tahun. Seperti Lewis W. Hine yang mendokumentasi 5 ribu foto tentang buruh anak di sejumlah wilayah di Amerika pada 1908 dan 1921. Lewat photo story Hine, Akhirnya terjadi perubahan social dengan lahirnya regulasi dari pemerintahan federal untuk melarang mempekerjakan buruh anak.


Salah satu alasan mengapa foto bencana salam seperti banjir, gempa bumi, dan longsor, menjadi atensi dalam photo story ialah bencana tersebut memberi begitu banyak pilihan momen. Tangis histeris, penderitaan, dan kesedihan menyatu dalam konteks pernyataan keprihatinan, disamping keruntuhan bangunan. Memotret bencana alam, seperti gempa, memerlukan manajemen pemetaan untuk mendeskripsikan keadaan lewat foto.


Penyisihan foto bisa dikategorikan spot news maupun features. Baik foto spot news maupun features bisa ditampilkan sebagai foto utama dalam single photo (foto tunggal) dalam halaman media cetak. Untuk media harian, single photo tetap memberi peluang foto headline. Kehadiran satu foto atau lebih dihalaman utama menjadi politik keredaksian setiap media. Kadang satu foto dihadirkan sebagai foto headline dan foto kedua sebagai foto penunjangnya. Itu belum bisa dikatakan photo story, meski foto utamanya dua. Sebab, tidak serta merta penyajian foto-foto tersebut terintegrasi secara kohesi.


Apabila sebuah rangkaian foto disusun sebagai proses dari awal hingga akhir, diawali adanya kompilasi berlanjut dengan penyajian resolusi, deretan foto tersebut disebut photo story naratif, bahkan argumentatif.


Foto naratif bersifat membentuk cerita mulai permulaan hingga akhir secara berurut. Adapaun photo story argumentative merupakan foto esai yang memberi eksplanasi dari dua sudut pandang yang argumentative. Umumnya foto bencana bisa dipetakan dalam rangkaian tahap. Bisa untuk running news yang terbit single photo dalam beberapa hari maupun sebagai rangkaian dalam bentuk photo story yang disajikan satu halaman.


Penampilan single photo gempa besar secara running (berkesinambungan) di media membutuhkan tahap progress dan menghindari foto pengulangan. Misalnya, foto kehancuran insfrastruktur menjadi tidak menarik ketika ditampilkan terus menerus dalam beberapa hari. Dibutuhkan langkah maju dalam running news penyajian fotonya. Struktur pemetaan foto dalam kronologi peristiwa bencana besar sangat bergantung pada peran fotografer, redaktur foto, dan pemred media dalam mengorganisasikan tahap running news photo.


Pengorganisasian tahap-tahap liputan bertujuan menghindari foto yang monoton, tanpa progress, dan pengulangan yang tidak perlu. Mulai kejadian gempa sampai pascarehabilitasi membutuhkan tahap rangakaian foto yang berjenjang.


Kronologi pengabdian foto gempa tahap pertama adalah (1) menangkap ekspresi dan gerak masyarakat yang berhamburan keluar bangunan. Foto gempa dipastikan lebih banyak menampilkan foto kesedihan. Memang agak berbeda ditengah penderitaan bisa menghadirkan foto orang gembira apalagi tertawa. Sangat ironis, meski itu menarik untuk berita. Tetapi, hal tersebut belum pernah terjadi.


Disusul (2) orang-orang yang berteriak histeris ketika menyaksikan bangunan yang ambruk. Tentu, foto itu hanya bisa diperoleh fotografer lokal yang berada dilokasi setempet. Fotografer diluar wilayah bencana masih punya banyak kesempatan untuk memperoleh momen lain. Sebab, kelangsungan peristiwa gempa terjadi lebih lama. Itu berbeda dengan kebakaran pesawat, tenggelamnya kapal, atau tabrakan kereta yang hanya dalam perlu hitungan jam untuk merekam momennya.


Tahap running news photo selanjutnya adalah (3) merekam bangunan ambruk dalam kondisi yang parah menjadi sulit karena luasnya wilayah. Apalagi, jumlah bangunan yang runtuh sangat banyak. Dengan demikian, fotografer harus mencari bangunan paling rusak parah maupun momen yang menimbulkan kesan dramatis karena masih ada orang yang terjebak didalam bangunan rusak. Banyak fotografer yang terfokus pada satu lokasi sehingga mengesampingkan bangunan lain. Padahal, bisa jadi bangunan lain memiliki nilai berita lebih. Untuk menggambarkan suasana kerusakan secara keseluruhan memang yang paling tepat dengan pengambilan dari atas heli. (4) Petugas gabungan medis, TNI-Polri, team rescue, dan aparat pemerintahan yang mencari korban dan menevakuasi korban gempa dengan alat berat. (5) Rumah sakit yang kebanjiran pasien luka-luka berat maupun ringan. (6) Deretan korban gempa yang meninggal, biasanya diletakkan berjajar. (7) Kemudian pemotretan keadaan malam yang gelap tanpa listrik dan diganti dengan petromak.


Kesulitan fotografer media di daerah gempa adalah proses mengirim foto ketika insfratuktur dan jaringan telekomuniaksi tidak berfungsi. Peristiwa itu terjadi ketika gempa besar yang mengguncang Kota Padang pada hari pertama. Foto-foto tidak bisa terkirim lewat internet ke luar daerah Padang. Dengan demikian, hampir seluruh tampilan foto di media cetak Indonesia tidak menggambarkan gempa yang besar. Salah satu cara mengatasi hal tersebut adalah penggunaan telepon satelit.

Running news photo berikutnya (8) prioritas subjek pada bayi, anak-anak, wanita hanil, orang cacat, orang tua, renta,. Point of interest pada subjek itu memberikan empasti pada aspek kemanusiaan lebih tinggi. Lantas, (9) foto orang-orang yang tidak berani tidur di dalam rumah. Mereka mendirikan tenda atau tidur berkelompok jauh didepan rumah. (10) Pengungsian yang dikonsentrasikan disebuah tempat. Suasana pengungsian di siang maupun malam. (11) Pembagian makanan dari dapur umum, termasuk pemberian bantuan berupa pakaian, makanan, dan uang.


Setelah gempa berlangsung beberapa hari, yang perlu dicermati fotografer adalah pendekatan terhadap subjek sebelum memotret. Hal itu dilakukan untuk menghindari kata-kata umpatan sebagai fotografer yang tidak berperasaan. Biasanya itu terjadi ketika korban hanya difoto, tapi tidak kunjung diberi bantuan. Itu terjadi pascagempa. Mereka bisa sangat sensitive. Mereka kadang menganggap mengabadikan penderitan orang sering memaknai mengeksploitasi.


Perlu pendekatan dulu sebagai etika memotret terhadap subjek di daerah gempa. Mengajak ngobrol, turut prihatin, dan ungkapan belasungkawa sangat dibutuhkan sebagai langkah pendekatan sebelum memotret. Pemotretan memang tidak terlihat sebagai aktifitas membantu secara langsung.


Namun, disamping mendokumentasikan, tugas fotografer adalah menginformasikan kepada khalayak agar melihat realitas melalui foto di media. (12) Lantas, selang beberapa lama di tempat pengungsian, kemungkinan terjadi penyebaran penyakit karena sanitasi tidak cukup baik. (13) Tahap terakhir pemotretan dalam rangkaian foto adalah pembersihan puing-puing reruntuhan., baik yang dilakukan manusia ataupun alat-alat berat. Sejumlah elemen peristiwa yang disajikan secara berkala dalam running news photo di harian media cetak menjadi single photo ketika ditampilkan terpisah setiap hari. Namun, rangkaian tersebut juga bisa menjadi photo story ketika direpresentasikan dalam susunan foto yang terintregrasi.



Tahap Pemotretan Dalam Memotret Bencana :

1. Ekpresi dan gerak dinamis masyarakat yang menyelamatkan diri dari gempa.

2. Histeria orang menyaksikan bangunan yang runtuh.

3. Mencari bangunan dengan kerusakan parah maupun korban yang terperangkap.

4. Evakuasi korban gempa.

5. Rumah sakit yang kebanjiran pasien.

6. Deretan korban yang meninggal.

7. Suasana malam tanpa penerangan listrik.

8. Prioritas korban bayi, anak-anak, orang cacat, ibu hamil, orang tua renta.

9. Foto orang-orang yang tidak berani tidur didalam rumah.

10. Keadaan pengungsian.

11. Pemberian bantuan.

12. Penyebaran penyakit di pengungsian maupun korban yang lama tak terevakuasi.

13. Pembersihan puing-puing reruntuhan.



Dikutip dari Yuyung Abdi (redaktur foto Jawa POS)


Fotografi : Underwater Photography

Hebat didarat bukan berarti jagoan pula memotret di dalam air (underwater). Teknik foto didarat tak bisa langsung diterapkan begitu saja secara mudah untuk underwater photography. Kondisinya begitu berbeda, environment (lingkungan)-nya tak sama. Banyak factor teknis yang nonteknis yang membedakan fotografi didarat dengan fotografi didalam air.


Secara teknis, tentu yang digunakan untuk underwater photography adalah kamera dengan casing (pelindung) kedap air. Karena itu, saat perkembangan kamera digital belum terlalu booming, presentase penggemar fotografi didalam air tidak banyak. Di Indonesia, fotografer dengan kemampuan itu bisa dihitung dengan jari.


Mereka bukan tak tertarik. Melainkan, kala itu peralatan kamera bawah air memang begitu mahal. Kamera pun banyak yang terintegrasi menjadi satu, tidak terpisah antara kamera dengan housing. Lantaran memakai kamera konvensional, ada keterbatasan jumlah frame yang bisa digunakan di dalam air. Secara fotografer harus naik laut ke darat untuk mengganti rol film yang baru. Kekurangan lain, objek pada viewfinder terlihat lebih besar karena perbedaan indeks bias.


Kelahiran kamera digital yang disertai teknologi casing dalam air, bahkan munculnya kamera waterproof, membuat perkembangan underwater photography melesat. Bukan hanya kamera high-end yang digemari. Kamera low-end yang dilengkapi dengan housing underwater pun mencuri hati penggemar.


Memang, kamera underwater yang tersedia di pasaran sangat variatif. Harganya bergantung bahan, ukuranm atau dimensi kamera serta fitur yang disediakan. Housing kamera underwater yang terbuat dari plastic polimer keras memang berbeda dengan bahan kamera DSLR dan poket.


Kamera high-end, misalnya Canon EOS 1D Mark III, berharga cukup mahal. Yakni, sekitar Rp 20 juta. Lalu, casing dalam air untuk kamera low-end berkisar Rp 1 juta – Rp 2 juta. Contohnya adalah casing Canon PowerShot G10 yang terbuat dari plastic polimer. Harganya sekitar Rp 3 juta dengan kemampuan didalam air hingga 15 – 20 meter. Kamera itu cukup diminati penyelam. Harganya terjangkau, tapi kualitasnya bagus.


Ada juga casing underwater untuk kamera DSLR yang terbuat dari plastic lentur. Harganya jauh lebih murah, sekitar Rp 1,2 juta – Rp 2 juta. Namun, kedalaman yang bisa dicapai hanya berkisar 5 – 10 meter. Sementara itu, untuk digunakan di kolam renang atau pantai, orang lebih memilih kamera waterproof yang tidak pakai casing. Misalnya Canon D10 underwater dengan harga Rp 3,5 juta dengan kemampuan hingga kedalaman 10 meter.


Foto bawah air berkaitan dengan kemampuan menyelam. Fotografer underwater harus memiliki sertifikat menyelam. Sertifikat itu punya berbagai tingkat dan dapat diperoleh lewat pendidikan khusus. Kursus tersebut berguna untuk mengetahui safety, reglasi, maupun fenomena dibawah laut. Harga perlengkapan, mulai tabung oksigen hingga aksesori selam, mencapai puluhan juta rupiah.


Faktor internal yang harus diperhatikan saat menyelam adalah kedalaman dan waktu penyelaman. Kapasitas tabung oksigen harus dikontrol. Sebab, itu menentukan lamanya menyelam. Selain itu, kedalaman menyelam berpengaruh pada jumlah oksigen yang dugunakan. Sehingga, penyelam meiliki waktu yang sangat terbatas karena menyesuaikan dengan kondisi tabung oksigen yang dibawa. Dalam setiap penyelaman, dibutuhkan pemberat agar penyelam dapat masuk kebawah air. Sebab, tabung oksigen berisi udara yang mengakibatkan mengapung jika tak diberi pemberat. Pemberat itu bervariasi untuk tiap – tiap orang, mulai 1 kilogram hingga 20 kilogram.


Perbedaan terbesar antara pemotretan didarat dan dalam air adalah pengendalian keseimbangan saat memotret. Di darat, fotografer bisa bertumpu pada kaki atau tripod sebagai penyangga artificial. Hambatan berupa angin pun bisa direduksi asal tubuh tidak terlalu ekstrem. Namun, pemotretan bawah air begitu berbeda. Tubuh tak stabil didalam air. Gerakan air begitu mempengaruhi seorang fotografer, apalagi dalam air yang berarus deras.


Sementara itu, semakin dalam pengambilan foto dari permukaan air, semakin sedikit intensitas cahaya. Sebab, sebagian cahaya yang masuk ke air dipantulkan oleh permukaan air. Sebagian lagi diabsorb (serap) sehingga intensitasnya begitu berkurang. Karena itu, persoalan teknis kerap menjadi kendala. Setting pada shutter speed dibawah 1/60 mengakibatkan blur karena shake (goyangan). Sehingga, artifical lighting sangat dibutuhkan. Tujuannya, menghilangkan dominasi warna cyan. Tetapi, flash pop-up dari kamera low-end saja tidak cukup. Yang ideal adalah menggunakan flash kiri kanan dengan memakai belalai. Hal tersebut bisa menghasilkan foto yang excellent.


Kejernihan medium air yang menjadi tempat pemotretan sangat dibutuhkan. Air yang keruh akan memperburuk kualitas gambar. Tanpa flash, foto bakal buram. Namun, dengan flash, partikel dalam air akan dipantulkan sehingga membentuk spot-spot kecil.


Ada beberapa jenis underwater photography. Misalnya fotografi di kolam renang, bawah laut dangkal atau pantai, dan laut yang dalam. Kini fotografi bawah air berkembang dengan kombinasi pemotretan model maupun wedding dengan menggunakan medium air. Maka, foto di kolam renang maupun pantai yang tidak dalam menjadi pilihan lokasinya.


Underwater photography pada kategori laut sedang, misalnya, mengekplorsi biota laut seperti terumbu karang maupun berbagai jenis binatang laut. Sedangkan untuk deep sea (laut dalam), jumlah fotografer yang menekuni masih sangat terbatas. Yang terkenal sebagai fotografer deep sea adalah Emory Kristof. Dia memotret di kedalaman 4.000 meter dibawah laut saat mengabadikan kapal Titanic yang tenggelam di Newfoundland. Kristof menggunakan lampu eksternal yang terpisah dari kamera dalam jumlah yang banyak. Hasil foto-fotonya yang luar biasa itulah yang mengilhami pembuatan film Titanic.

Dikutip dari Yuyung Abdi (redaktur foto Jawa POS)

Fotografi : Memahami Lensa

Merepresentasikan foto melalui eksplorasi sudut pandang, angel, maupun prespektif sangat bergantung pada pemahaman terhadap lensa. Kemampuan memahami lensa membuat fotografer lebih mendalami dimensi ruang. Dia bisa mengimprovisasi objek sederhana menjadi tampilan foto elegan dalam prespektif yang berbeda. Bahkan, sesuatu yang tidak menarik secara visual dapat dibuat hingga punya daya tarik dengan mengubah sudut pengambilan (angel).


Untuk mempresentasikan foto berdasarkan kualitas, tentu kebutuhan lensa dengan mutu yang baik menjadi pertimbangan utama. Sebenarnya secara kualitas, tingkatan hasil foto ditentukan oleh tiga faktor. Yaitu, lensa, sensor, dan prosesor. Ketiganya berperan penting menghasilkan gambar yang baik. Salah satu peran sensor berhubungan dengan resolusi, yaitu jumlah pixel. Sedangkan prosesor berkorespondensi dengan dynamic range, selain tetap berkorelasi dengan sensor dan pilihan optik.


Dari tiga unsur tersebut, lensa merupakan urutan utama yang menentukan kualitas gambar, yaitu tajam, detail, dan clarity (jelas). Sebab, lensa dengan kualitas tidak optimal akan berpengaruh langsung terhadap hasil foto yang juga tidak optimal.


Memilih lensa bermutu baik memang berdasar banyak aspek. Mulai kontras optik, daya pisah lensa, bahan optiknya, hingga coating lens. Sedangkan pilihan fasilitas yang tidak berkaitan langsung dengan kualitas adalah jarak fokus terdekat, diameter lensa, kontruksi lensa, (susunan optik dalam lensa), autofokus yang cepat, silent motor, mikroposesor, motor mekanis didalam, stabilizer (antishock), maupun pilihan focal length. Namun, seseorang tidak mungkin bisa meneliti sedetail itu ketika memilih lensa. Mereka kadang lebih terpikat oleh penjelasan sang penjual. Sah saja, tapi yang perlu diteliti adalah jenis bahan lensanya dari plastik atau kaca optik.


Setelah itu, baru kriteria kualitas lensanya. Setiap produsen punya spesifikasi sendiri pada produk lensa. Misalnya, lensa Canon kelas L series dan non L series.L artinya kode Luxulury, lensa paling istimewa kualitasnya. Banyak yang menghindari pembelian lensa kit Canon (non L series) yang dianggap menimbulkan error 99 (kerusakan, sehingga memutus hubungan antara bodi dan lensa). Salah satu penyebabnya, kabel selendang fleksibelnya mudah putus.


Lensa yang bagus selalu berorelasi dengan harganya yang tinggi. Apalagi, bila dilengkapi fitur tambahan, seperti bukan aparture terbesar, image stabilizer, dan USM (ultrasonic motor) untuk Canon. Sedangakan Nikon dengan istilah VR vibration reduction dan SWM (silent wave motor). Lensa Canon seri L, Nikon kode ED, Carl Ziess maupun Leica dibuat dengan resolving power (daya pisah) lensa dan kontras optik yang tinggi. Daya pisah ini memang hanya bisa dilihat di laboratorium khusus lensa yang dilengkapi mikroskop dengan pembesaran 50x atau lebih. Hasil foto lantas dianalisis nilai numeriknya. Nilai tersebut menunjukkan jumlah garis dalam milimeter. Metode itu digunakan untuk menentukan resolusi lensa yang baik.


Jadi, daya pisah lensa adalah kemampuan memisahkan bagian paling kecil elemen dalam foto. Yakni, kerapatan sebuah garis yang masih tampak meskipun berimpitan. Sedangkan kontras optik adalah perbedaan daerah terang (hightlight) dengan daerah gelap (shadow) yang masih memiliki detail. Kontras tinggi dihasilkan ketika rasio reproduksi antara hitam dan putih adalah jelas dan tegas perbedaannya.


Kemudian, kontras rendah terjadi ketika perbedaan tersebut tidak jelas. Kontras disini berbeda dengan dynamic range. Dynamic range merupakan perbandingan yang diukur antara nilai intensitas tertinggi hingga terendah pada exposure eksterm. Persoalan rendahnya dynamic range berhubungan dengan keterbatasan prosesor dan sensor kamera untuk menangkap perbedaan antara daerah gelap dan terang hingga 10 stop. Misalnya, memotret didalam ruang dengan menyertakan panorama diluar ruang. Tentu sulit sekali kamera merekam dua daerah tersebut, kecuali memilki dynamic range yang baik.


Sementara, interelasi coating lens dengan kualitas foto dapat dicermati pada permukaan lensa. Ketika permukaan lensa kita lihat, tampak warna ungu kehijauan atau ungu kebiruan. Sebenarnya warna tersebut berasal dari magnesium flourida yang dilapiskan pada permukaan lensa. Funsi pemberian coating ini bertujuan mereduksi refleksi cahaya pada permukaan lensa sehingga hasil foto tidak terlihat flare. Salah satu efek flare adalah menurunkan ketajaman.


Coating pun bisa terkikis jika permukaan lensa terlalu sering dibersihkan. Bahkan, membersihkan jamur pada optik bagian dalam bisa menghilangkan coating lens. Setiap lensa menggunakan tipe coating berbeda-beda. Ada yang single coating atau multycoating. Secara umum multycoating lebih efesien merefleksikan panjang gelombang sepektrum yang tampak pada lensa dengan indeks refraktif optimal.


Namun, sehebat-hebatnya kualitas lensa, jika tersentuh jari, tentu timbul dampak buruk pada hasil gambar. Hal ini disebabkan ujung jari finger print terdiri atas lipid, asam amino, dan garamyang menempel pada lensa sehingga gambar menjadi buram. Akibatnya, selain ketajaman berkurang, juga timbul flare.


Perbedaan penggunaan lensa memberikan perbedaan perspektif. Perspektif adalah ukuran dan kedalaman relatif subjek gambar. Perspektif juga bisa berarti perubahan bentuk, ukuran, dan kedalaman bidang yang relatif akibat perbedaan cara pandang antara objek dengan kamera. Perbedaan tersebut terjadi karena ada pergeseran posisi dalam melihat suatu dari sudut pandang, jarak, dan ketinggian yang tidak sama maupun pennggunaan lensa dengan focal length yang berbeda.


Penggeseran posisi maupun penggunaan focal length yang berbeda memberikan perspektif yang berbeda pula. Sehingga penggunaan berbagai jenis lensa meiliki fungsi yang berbeda. Seiring dengan perkembangan optic dan teknologi, variasi lensa menjadi begitu banyak. Hingga saat ini lensa DSLR dibagi dalam tiga kategori besar. Yaitu, (1) lensa dibedakan berdasar focal length, (2) rentang optic, dan (3) lensa varian.


Macam lensa berdasar panjang focus terdiri atas lensa tele (tele pendek dan super tele), lensa wide (super-wide dan fish eye), serta lensa normal (standart). Sedangkan lensa berdasarkan lensa rentang optis terdapat dua macam, yaitu lensa fix dan zoom. Yang terakhir, lensa varian terdiri atas lensa makro, reverse lens, bellow, swing, tilt, dan reflex.



Prespektif : Lensa wide memberi efek

lebih luas pada objek yang berada dekatlensa.

Dengan demikian, tinggi botol minuman

22 cm tampak lebih besar ketika di area foreground

daripada tinggi orang.


Disebut lensa standart atau lensa normal karena memiliki panjang focus sekitar 50mm sama dengan mata manusia saat melihat. Perbedaan mata dengan lensa normal itu hanya terletak pada sudut pandang. Mata manusia hampir 180 derajat dalam melihat sesuatu dari depan. Sedangkan penglihatan lensa standar dibatasi jendela bidik kamera yang punya sudut pandang 46 derajat. Namun, sekarang lensa normal tidak hanya memiliki focal length pada nilai 50 mm, melainkan berkembang mulai 46 mm hingga 55mm.


Penyebutannya jadi sulit ketika memakai lensa dengan focal length sekitar 40 mm. Meskipun, pada lensa 35 mm ada kesepakatan disebut lensa sudut lebar atau wide lens. Kini lensa normal mengalami pergeseran penyebutan sejak diperkenalkannya kamera digital. Misalnya kamera digital yang tidak full frame dengan magnifikasi 1,5 maupun kamera four third system. Apakah masih relevan penyebutan bahwa lensa 50 mm termasuk kategori lensa normal? Padahal, angka focal length 50 mm dengan magnifikasi 1,5 lensa akan berubah menjadi 75 mm. Berarti, lensa tersebut mendekati jenis lensa tele pendek.


Demikian juga yang terjadi pada four third system, dimana panjang focal 50 mm menjadi 100 mm. Maka, mana yang benar, penggunaan angka yang tertera pada lensa ataukah bergantung jenis lensanya? Sebab, tidak semua kamera punya faktor magnifikasi yang sama. Ada yang punya pembesaran 1,3 seperti Canon EOS 1D, ada magnifikasi 1,6 milik entry level kamera Canon yang lain ataukah factor pembesaran 1,5 milik Nikon kelas menengah atau pemula.


Sedangkan lensa wide memiliki focal length kurang dari 50 mm, lebih tepatnya focal length 35 mm pada kamera full frame. Sifat lensa sudut lebar adalah meluaskan pandangan atau memberikan kesan menjauhkan sesuatu yang dekat, Selain itu, memberikan ruang tajam dan luas, efek bayangan, serta kontras yang tinggi. Tetapi, lensa lebar memberikan efek distorsi yang mencembungkan daerah sekitar lingkaran tengah dan memipihkan bagian pinggir foto. Sehingga, lensa wide (lebar) lingkungan foreground tampak lebih lebar daripada background.


Lain halnay dengan lensa tele. Fungsinya adalah mendekatkan objek dengan merapatkan gradasi lapisan pada latar depan sampai latar belakang sehingga memiliki ruang tajam pendek. Benda yang berada jauh dibelakang seakan berimpit. Semakin panjang focal length, makin sempit ruang tajamnya.


Sementara itu, lensa zoom atau vario didasarkan pada kegunaan yang lebih fleksibel saat pemotretan. Tanpa maju mundur atau berpindah tempat. Selain itu, punya kemampuan ganda yang menggantikan fungsi sejumlah lensa, dimana beberapa lensa dikemas jadi satu. Selamat mencoba!


Dikutip dari Yuyung Abdi (redaktur foto Jawa POS)



Fotografi : Street Photography

Street photography merupakan jenis fotografi yang mengkhususkan pengambilan gambar secara candid tentang aktifitas kehidupan masyarakat urban. Banyak hal yang menarik dalam kehidupan urban diperkotaan, tempat masyarakat menjadi elemen penting representasi visual. Setiap kota punya tipikal kehidupan dan bangunan fisik berbeda-beda. Kehidupan kota divisualisasikan dengan keinginan sekaligus kebalikannya. Daerah perkotaan memberikan tampilan foto yang erat pada kehidupan orang ditrotoar dengan mode baju yang dikenakan, lalu lintas, pedagang, transportasi, dan keunikan lain.


Memang street photography tidak mengarah pada persoalan sosial, melainkan lebih bertumpu pada dinamika kehidupan masyarakat urban. Determinasi itu menghindari overlapping dalam deskrepsi foto jurnalistik. Karakteristik street photography tentu lebih menekankan pemotretan subjek apa adanya, tanpa mengarahkan, bahkan lebih bersifat snapshot. Unsur kejelian, selektifitas dalam memilih objek, sangat dibutuhkan, sementara menungu merupakan waktu yang terberat untuk mendapatkan decisive moment. Sementara itu, sifat momen, pilihan arah cahaya, bentuk geometris, dan warna menjadi bagian yang juga ditekankan pada foto ini.


Sejak pascatragedi serangan gedung kembar WTC 11 September 2001, street photography yang dilakukan orang ketika bepergian menjadi isu sensitif karena kecurigaan yang berlebihan terhadap aktifitas memotret di jalur pedestrian. Memang kecurigaan itu sangat diskriminatif dalam melihat orang. Kita jadi tidak jadi sebebas dulu ketika memotret di kawasan bisnis, wilayah skyscraper, terminal, maupun subway, Sesekali petugas di sekitar tempat tersebut akan menannyakan keperluan pemotretan. Teguran itu biasanya dialamatkan kepada fotografer yang beraktifitas sendirian. Ada juga pemotretan yang berujung pada interogasi polisi.


Mengidentifikasi wilayah publik dan privat dalam pendekatan tekstual menjadi kompleksitas pembagian ruang yang ambigu bagi dunia fotografi. Alasan regulasi, otoritas kepemilikan, maupun ranah hukum menjadi tumpang tindih. Tidak adanya aturan tertulis tentang wilayah publik dan wilayah privat mengakibatkan ketidakjelasan itu. Sebenarnya, area publik merupakan ruang terbuka bagi masyarakat umum. Sedangkan area privat adalah wilayah yang spesifik dalam kepemilikan individu, sekelompok individu, ataupun institusi.


Seuatu yang otonom bisa didekatkan pada wilayah privat karena dasar legitimasi otoritas. Memang harus diakui, banyak yang memprivatkan wilayah publik dalam regulasi ilegal untuk kepentingan kepemilikan atau bisnis. Area publik itu dijadikan properti yang bersifat prifat oleh masyarakat.


Di area publik tidak ada larang untuk memotret. Yang termasuk wilayah publik adalah jalan, jalur pedestrian, pantai, taman, airport, pelabuhan, terminal bus, maupun stasiun kereta api. Namun, khusus airport, ada daerah terlarang untuk difoto, seperti ruang imigrasi dan runway. Sedangkan di lingkungan lembaga pendidikan mulai playgroup, TK, SD, SMP, hingga SMA, kita diwajibkan untuk meminta izin otoritas yang berwenang, seperti kepala sekolah. Khusus di kompleks kampus, wilayah public merupakan area yang sangat tentative, kecuali dalam kelas.


Sementara itu, kantor polisi, instasnsi militer, pengadilan, rumah sakit, dan rumah tahanan merupakan wilayah yang sangat sensitive untuk aktifitas pemotretan, kecuali dengan izin.


Dunia fotografi juga mengenal area privat yang terbuka untuk umum. Misalnya tempat hiburan, hotel, bioskop, restoran, salon, tempat wisata, museum, maupun shopping center. Di wilayah-wilayah itu ada yang membebaskan untuk aktifitas pemotretan, ada yang sangat melarang, ada juga yang meminta bayaran bila aktifitas fotografi itu ditujukan untuk kepentingan komersial.


Di Amerika, Australia, maupun Singapura, memotret di plaza atau mal bukan kegiatan yang dilarang, sepanjang tidak berada dalam outlet. Tetapi, di Indonesia memotret di plaza kerap dilarang. Sebab, ada kekhawatiran bahwa pemotretan itu dilakukan untuk kepentingan penjiplakan desain interior.


Wilayah larangan lain adalah pabrik, industri, bank, bursa efek, dan rumah pelacuran. Sementara itu, rumah pribadi, apartemen, kamar hotel dan ruang dalam mobil menjadi area privat. Ruang mobil menjadi area privat dengan mengacu pada kasus kematia Putri Diana pada 1997, saat para fotografer mengabadikan si putrid dalam mobil dengan kondisi mengenaskan. Persoalan tersebut kemudian dibawa ke pengadilan. Meski para paparazzi tidak ditahan, kasus itu akhirnya menjadi regulasi baru dalam dunia fotografi bahwa ruang mobil termasuk wilayah privat.


Memotert bukan lagi sesuatu yang bebas dimiliki setiap orang. Kini banyak aturan tak tertulis yang membatasi kegiatan memotret. Mengapa memotret kimi diikuti bermacam regulasi? Sebab, selalu ada kepentingan dibalik foto. Foto tidak dipresepsi apa adanya. Karena bisa dibisniskan, foto dapat digunakan untuk memplagiat karya orang atau mengungkap keburukan tersmbunyi, bahkan dimanfaatkan untuk kegiatan spionase. Padahal, aktifitas pemotretan bisa jadi hanya ditujukan untuk dokumentasi pribadi, kenang-kenangan, atau bahan refrensi. Tapi, tidak bagi pemilik otoritas area privat.


Dikutip dari Yuyung Abdi (redaktur foto Jawa POS)

Pranala luar

Komunitas Fotografi Indonesia

Jenis Kamera

Berdasarkan Media Yang Digunakan

Daftar Istilah Fotografi

Beberapa istilah fotografi akan membingungkan bila diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia. Oleh karena itu istilah yang sudah berlaku umum tetap dipertahankan

Klasifikasi Fotografi

Fotografi memiliki banyak cabang atau kekhususan berdasarkan subyek fotgrafinya, di antaranya:
Foto jurnalistik adalah foto yang merekam suatu berita, biasanya foto jenis ini terpasang di media cetak seperti koran atau majalah.

Sejarah fotografi

Pada abad ke-5 sebelum masehi, ada orang yang bernama MoTi, berhasil menemukan gejala fotografi. Apabila sebuah ruangan gelap ada lubang yang memancarkan sinar, maka di tembok suatu ruangan tersebut akan terlihat gambar sumber cahaya tadi secara terbalik. Ibn Al-Haitham, seorang Arab juga menemukan menemukan gejala yang sama. Foto pertama dibuat pada tahun 1826 selama 8 jam. Louis-Jacques- Mandé Daquerre merupakan bapak fotografi dunia 1837. Camera Obscura merupakan kamera yang pertama kali yang dipakai untuk menggambar kemudian memotret.
  • Kamera Kodak (Eastmant Kodak) pertama kali dipatenkan pada tahun 1888 di Amerika.
  • Tahun 1900 seorang Juru gambar telah mencipta kamera Mammoth. Kamera ini amat besar ukurannya dimana beratnya 1,400 pound. Lens seberat 500 pound. Sewaktu mengubah atau memindahkannya membutuhkan tenaga manusia sebanyak 15 orang

Sejarah fotografi

Pada abad ke-5 sebelum masehi, ada orang yang bernama MoTi, berhasil menemukan gejala fotografi. Apabila sebuah ruangan gelap ada lubang yang memancarkan sinar, maka di tembok suatu ruangan tersebut akan terlihat gambar sumber cahaya tadi secara terbalik. Ibn Al-Haitham, seorang Arab juga menemukan menemukan gejala yang sama. Foto pertama dibuat pada tahun 1826 selama 8 jam. Louis-Jacques- Mandé Daquerre merupakan bapak fotografi dunia 1837. Camera Obscura merupakan kamera yang pertama kali yang dipakai untuk menggambar kemudian memotret.
  • Kamera Kodak (Eastmant Kodak) pertama kali dipatenkan pada tahun 1888 di Amerika.
  • Tahun 1900 seorang Juru gambar telah mencipta kamera Mammoth. Kamera ini amat besar ukurannya dimana beratnya 1,400 pound. Lens seberat 500 pound. Sewaktu mengubah atau memindahkannya membutuhkan tenaga manusia sebanyak 15 orang

Fotografi

Fotografi (Photography, Ingris) berasal dari 2 kata yaitu Photo yang berarti cahaya dan Graph yang berarti tulisan / lukisan. Dalam seni rupa, fotografi adalah proses melukis / menulis dengan menggunakan media cahaya. Sebagai istilah umum, fotografi berarti proses atau metode untuk menghasilkan gambar atau foto dari suatu obyek dengan merekam pantulan cahaya yang mengenai obyek tersebut pada media yang peka cahaya. Alat paling populer untuk menangkap cahaya ini adalah kamera.

Jadi dapat disimpulkan bahwa tidak ada cahaya, berarti tidak ada foto yang bisa dibuat

Prinsip fotografi adalah memokuskan cahaya dengan bantuan pembiasan sehingga mampu membakar medium penangkap cahaya. Medium yang telah dibakar dengan ukuran luminitas cahaya yang tepat akan menghailkan bayangan identik dengan cahaya yang memasuki medium pembiasan (selanjutnya disebut lensa).

Untuk menghasilkan intensitas cahaya yang tepat untuk menghasilkan gambar, digunakan bantuan alat ukur berupa lightmeter. Setelah mendapat ukuran pencahayaan yang tepat, seorang fotografer bisa mengatur intensitas cahaya tersebut dengan merubah kombinasi ISO / ASA (ISO Speed), Diafragma (Aperture), dan Kecepatan Rana (Speed). Kombinasi antara ISO, Diafragma & Speed selanjutnya disebut sebagai Eksposur (Exposure)

Di era fotografi digital dimana film tidak digunakan, maka kecepatan film yang semula digunakan berkembang menjadi Digital ISO