Search

Tampilkan postingan dengan label Ramadhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ramadhan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 September 2011

Amal yang Berbuah Cinta Allah


Dok. Thinkstock
Sumber: Ustad Aam Amirudin/Republika
Baca artikel Ramadan di ponsel lewat m.koprol.com/ramadan
Orang yang paling bahagia adalah orang yang menjadi kekasih Allah. Seorang hamba yang menjadi kekasih Allah pasti akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Amal saleh merupakan fondasi utama yang akan mengantarkan kita menjadi kekasih-Nya.
Lalu bagaimana caranya agar ibadah yang kita lakukan bisa mengantarkan pada cinta Allah SWT? Paling tidak ada lima kiat yang harus kita lakukan.
Pertama, lakukan ibadah dengan penuh cinta. Cinta manusia kepada Allah adalah puncak cinta manusia yang paling bening dan jernih. Cinta sebagai media untuk mengikat atau menghubungkan hamba dengan Allah. Adanya kerinduan ingin bertemu dengan Allah bukan hanya dengan berkomunikasi dalam bentuk salat, doa, zikir dan membaca Al Quran tetapi diwujudkan juga dalam sikap istiqamah atau konsisten dalam berpegang teguh pada ajaran Islam.
Rasulullah SAW mengingatkan: "Seorang hamba tidak disebut beriman kecuali bila aku lebih dia cintai daripada anaknya, orang tuanya dan manusia seluruhnya." (HR Bukhari).
Kedua, lakukan amal saleh secara maksimal sesuai dengan kemampuan. Seorang pengusaha tidak mungkin sukses tanpa mengalami rintangan. Seorang pelajar tidak mungkin menjadi ilmuwan tanpa melalui tahap pendidikan dan ujian. Begitu pula dengan surga. Seorang hamba yang berniat ingin meraih kenikmatan surga, tentu saja harus melewati tahapan ujian dari Allah.
Ketiga, mujahadah, yakni bersungguh-sungguh melakukan amal saleh sehingga setan tidak memiliki peluang untuk menggelincirkan manusia ke dalam kesesatan. Allah SWT akan memberikan petunjuk ke jalan yang diridoi-Nya kepada orang yang ibadahnya disertai mujahadah.
Sifat mujahadah ini tampak jelas pada Rasulullah SAW yang selalu melakukan salat malam hingga kedua tumitnya bengkak. Ketika itu, Aisyah RA bertanya: "Mengapa engkau lakukan hal ini (salat malam), bukankah Allah SWT sudah mengampuni dosamu yang sudah lalu dan yang akan datang?" Rasulullah SAW bersabda: "Bukankah sepantasnya aku menjadi seorang hamba yang bersyukur?" (HR Bukhari dan Muslim).
Keempat, sabar ketika beramal. Ibadah apa pun, salat, puasa, zakat, haji, salat malam maupun ibadah lainnya, hendaknya dilaksanakan dengan sabar.
Kelima, berjamaah dalam melakukan amal saleh. Sebuah peribahasa menyebutkan: "Seekor harimau tidak akan pernah menerkam kambing yang sedang berkelompok." Peribahasa itu menunjukkan, musuh takut akan perlawanan yang dilakukan secara berkelompok. Begitu juga setan. Ia akan kesulitan menggelincirkan manusia dalam kesesatan jika ibadah selalu dikerjakan secara berjamaah. Apalagi, ibadahnya disertai dengan keikhlasan yang murni karena Allah SWT.
"Tidaklah tiga orang penghuni desa atau penghuni pegunungan yang tidak mendirikan salat berjamaah kecuali mereka telah dikuasai oleh setan. Karena itu, hendaknya kamu melakukan salat dengan berjamaah karena harimau hanya mau menangkap kambing yang sedang sendirian." (HR Abu Daud dan Nasa'i).
Semoga Allah SWT memberi kekuatan kepada kita untuk meraihnya. Amin.

Sabtu, 27 Agustus 2011

Buah Berkhasiat Untuk Kesehatan Kulit Saat Berpuasa



  • Mengonsumsi sejumlah buah-buahan dapat membantu Anda mengurangi tanda-tanda penuaan, mencerahkan kulit kusam, dan menjaga kekenyalan kulit saat berpuasa. Buah apa saja yang paling berkhasiat?

    Bagi Anda yang menjalaninya, bulan puasa seperti ini pasti akan mengurangi pasokan cairan yang masuk ke tubuh. Asupan air, mineral dan vitamin yang penting bagi kelembapan dan kesehatan kulit sangat menurun.

    Akibatnya bibir pun pecah-pecah, kulit menjadi kering dan kusam, Anda pun tidak tampil segar. Menambahkan beberapa buah-buahan bergizi dapat membantu Anda mengurangi tanda-tanda penuaan, mencerahkan kulit kusam, dan menjaga kekenyalan kulit saat berpuasa.
    Berikut ini beberapa buah yang berkhasiat bagi kesehatan kulit semasa Anda berpuasa:

    ‘Blackberry’, ‘blueberry’, stroberi dan plum.
    Menurut Dewan Informasi Makanan Internasional, keempat buah ini mengandung konsentrasi tinggi antioksidan. Meskipun penelitian ini masih belum meyakinkan, antioksidan (khususnya jenis yang dikenal sebagai flavonoid) dipercaya berkhasiat menetralisir radikal bebas yang dapat merusak sel-sel kulit. Sangat mudah untuk mengingat makanan mana yang memiliki antioksidan karena mereka kaya akan warna.

    Pepaya 
    Kandungan di dalam pepaya berkhasiat menjaga kekencangan kulit dan mencegahnya kendur. Sebagai buah yang mengandung antioksidan terbanyak, buah tropis ini juga memiliki beta-karoten, vitamin C, flavonoid, folat, kalium, magnesium, dan serat. Vitamin C penting bagi produksi kolagen, protein yang menyediakan kulit dengan struktur dan memberi kekencangan dan kekuatan pada kulit.

    Pir, kurma, apel dan pisang
    Serat — yang berguna untuk membantu mengeluarkan racun dalam tubuh — sering dikandung dalam buah-buahan. Penelitian di School of Medicine Tufts University membuktikan, serat juga membantu mencegah racun mencapai jaringan kulit Anda dengan memindahkannya ke usus dan mengantarkannya ke luar sebagai kotoran. Pir, kurma, apel dan pisang, kaya akan serat, dan rasa manis alami mereka dapat memuaskan keinginan mengonsumsi gula. Gula pasir bisa menyebabkan peradangan yang bisa membahayakan kesehatan kulit Anda.

    Alpukat
    WebMD.com mencatat bahwa jika kulit Anda kering, Anda harus mulai mengonsumsi buah alpukat. Meskipun buah ini tinggi kandungan lemak, mereka kaya akan lemak tak jenuh tunggal — yang dikategorikan sebagai lemak sehat. Lemak tak jenuh tunggal sangat penting untuk kulit Anda, karena mereka membantu melembabkannya dan menggantikan minyak yang terbuang saat kita menjalani rutinitas membersihkan muka.

Rabu, 24 Agustus 2011

Badan Sehat dan Bugar di Kala Berpuasa


Bulan puasa memang menahan lapar dan haus tapi bukan berarti Anda tidak berhenti menjaga kesehatan Anda dengan berolahraga. Salah satu olahraga yang bisa Anda coba di bulan puasa menjelang berbuka adalah futsal. Ada beberapa kiat bagi Anda yang ingin bermain futsal di bulan puasa :
  • Perhatikan kondisi badan.
  • Jangan terlalu memaksakan diri sehingga Anda terjatuh dan membuat rumput futsal rusak dan akan mengakibatkan Anda harus menggantinya.
  • Bermain dengan pintar dan sehat artinya bermain futsal tidak seperti Anda tidak berpuasa.
  • Bawa air putih yang banyak agar setelah berbuka puasa Anda bisa langsung minum air putih tersebut jangan mengkonsumsi minuman manis dahulu karena ion tubuh keluar sudah cukup banyak.
Selamat menjalankan ibadah puasa.

Bersiwak antara Sunnah dan Sains


Dok. Thinkstock
Oleh: DR Abdul Basith Jamal & DR Daliya Shadiq Jamal/Republika
Baca artikel Ramadan di ponsel lewat m.koprol.com/ramadan
Rasulullah SAW selalu memakai siwak dan beliau telah berwasiat untuk memakai siwak dalam beberapa haditsnya, di antaranya:
Dari Abu Hurairah RA, bahwasannya Rasulullah SAW bersabda, "Kalaulah aku tidak memberatkan terhadap umatku—atau manusia seluruhnya—maka aku perintahkan mereka untuk memakai siwak setiap salat." (HR Bukhari-Muslim).
Dari Aisyah RA, bahwasannya Rasulullah SAW bersabda, "Siwak adalah pembersih mulut dan membuat ridha Tuhan." (HR Nasa`i dan Ibnu Khuzaimah).
Inilah yang diucapkan oleh Rasulullah SAW sejak 14 abad silam. Lalu apa yang ditemukan oleh penelitian-penelitian ilmiah yang berkaitan dengan siwak di abad 20 ini?
Penelitian menyebutkan bahwa siwak mengandung unsur-unsur pencegah penyakit kanker. Untuk siwak jenis India terbukti secara ilmiah mengandung minyak yang bekerja menjaga gusi dari radang, bahkan menjadi penawar gusi yang terserang radang.
Berdasarkan manfaat siwak ini banyak perusahaan-perusahaan yang mencampurkan olahan siwak dalam pasta gigi untuk pencegahan atau pengobatan radang gusi.
Siwak juga berfungsi untuk mencegah gigi dari pembusukan. Bahkan mayoritas penduduk asli daratan Barat Afrika dan sebagian kawasan Asia Tenggara memakai siwak sehingga mereka tidak pernah terserang penyakit pembusukan gigi atau radang gusi.
Lalu apa yang kita katakan setelah ini? Apakah Muhammad SAW seorang dokter spesialis ramuan tumbuhan atau spesialis mulut dan gigi atau ilmu farmasi? Seorang yang "ummi" tidak mampu membaca dan menulis telah berkata demikian sejak 14 abad yang silam.

Alasan Jasa Penukaran Uang Diharamkan


Dok. Thinkstock
Sumber: Antara
Baca artikel Ramadan di ponsel lewat m.koprol.com/ramadan
Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PW NU) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur mendukung imbauan MUI Jombang yang mengharamkan penukaran uang setiap mendekati lebaran.
"Itu nggak perlu fatwa, karena yang namanya riba (bunga uang) itu memang diharamkan dalam agama. Islam memang melarang jual-beli uang dengan uang yang tidak setara," jelas Rais Syuriah PWNU Jatim KH Abdurahman Navis LC MHI kepada ANTARA di Surabaya belum lama ini.
Ia mengemukakan hal itu menanggapi fatwa Ketua MUI Jombang KH Kholil Dahlan bahwa penukaran uang itu haram, karena merugikan konsumen dan jual beli uang itu identik dengan riba. Menurut KH Abdurrahman Navis, penukaran uang yang diperbolehkan agama itu harus sepadan/setara, yakni uang Rp100 ribu harus ditukar dengan uang receh Rp100 ribu. Sehingga tidak boleh ada selisih seperti Rp100 ribu dengan uang receh Rp90 ribu.
"Kalau ada selisih itu berarti riba dan hal itu dilarang agama. Boleh saja ada imbalan jasa, tapi uang Rp100 ribu tetap harus ditukar Rp100 ribu, lalu ada imbal jasa seikhlasnya. Kalau imbal jasa sudah ditentukan terlebih dulu sebesar 10 persen berarti uang berbunga dan belum tentu bukan ikhlas," imbuhnya.
Ia menjelaskan, agama melarang jual-beli tanpa akad (perjanjian) dan prosesnya merugikan pihak lain. "Kalau bank sekarang `kan sudah ada alternatif perbankan syariah, sehingga masyarakat bisa memilih," ujarnya.
Untuk praktik penukaran uang yang sudah berkembang jauh, dia menyarankan hal itu dihentikan dan pemerintah harus menghentikan pola perdagangan uang yang haram itu dengan alternatif lain.
Senada dengan hal tersebut, Ketua MUI Jatim KH Abdusshomad Buchori menegaskan bahwa pihaknya mendukung fatwa MUI Jombang. Namun MUI Jatim tidak perlu mengeluarkan fatwa serupa melainkan cukup dengan imbauan.
"Islam sudah jelas mengharamkan riba karena itu berpulang kepada umat Islam sendiri, apakah tidak tahu atau pura-pura tidak tahu. Yang jelas kalau penukaran uang seperti sekarang diperbolehkan dengan alasan imbalan jasa itu namanya rekayasa," urainya di sela-sela peluncuran Masjid Bintang.
Karena itu ia menyarankan pemerintah mendesak kalangan perbankan untuk menyediakan loket penukaran uang yang cukup sehingga tidak direkayasa untuk kepentingan bisnis.
"Kalau perlu penukaran uang itu bisa dilakukan dengan unit-unit perbankan, sehingga masyarakat tidak harus antre terlalu lama dan akhirnya dimanfaatkan untuk bisnis penukaran uang. Pemerintah dan perbankan harus menghentikan budaya yang tidak baik itu," ujarnya.
Tentang praktik 'money changer' (penukaran uang) untuk mata uang antarnegara, ia menyatakan hal itu diperbolehkan sebatas penukaran itu setara nilai tukar yang berlaku saat itu.
"Syaratnya adalah penukaran uang harus dijalankan secara tunai dan untuk mata uang yang berbeda. Sedangkan untuk mata uang yang sama maka sama sekali tidak boleh mengambil keuntungan contoh rupiah ditukar dengan rupiah maka hal itu bisa jatuh ke riba," jelasnya.

Senin, 22 Agustus 2011

Tips Aman Meninggalkan Rumah saat Mudik


Dok. Thinkstock
Sumber: Tribun News
Baca artikel Ramadan di ponsel lewat m.koprol.com/ramadan
Sebagian warga DKI Jakarta akan melaksanakan mudik pada libur Lebaran 2011. Mereka akan meninggalkan ibukota menuju kampung halamannya masing-masing untuk bersilaturahmi.
Humas Polda Metro Jaya memberikan tips agar pemudik dapat merasa aman saat meninggalkan rumah pada hari raya Idul Fitri:
1. Sebelum pergi pastikan semua pintu rumah terkunci.
2. Cabut selang gas dari kompor dan matikan berbagai alat elektronik yang tidak digunakan Jangan lupa cabut steker (colokan) barang elektronik saat meninggalkan rumah. Fungsinya untuk menghemat listrik dan mencegah adanya arus pendek yang bisa memicu kebakaran.
3. Nyalakan lampu di beberapa bagian dalam rumah, seperti di kamar atau di ruang tamu, untuk memberi kesan kalau rumah tidak ditinggal dalam keadaan kosong.
3. Titipkan rumah ke tetangga yang tidak mudik atau pengurus RT/RW. Bertukar nomor telepon dengan tetangga terdekat dan pengurus RT/RW  yang tidak mudik agar bisa tetap berkomunikasi.
4. Beri uang tips petugas keamanan di lingkungan perumahan agar 'lebih' mengawasi rumah Anda.
6. Jika punya anggaran lebih, pasang alarm untuk mencegah masuknya penjahat ke rumah kita atau kamera pengawas (CCTV) di titik tertentu seperti kamar tidur dan ruang keluarga. Kini sejumlah perusahaan penyedia jasa keamanan juga sudah menawarkan tenaga pengamanan yang ditugaskan untuk menjaga khusus rumah atau ruko selama libur Lebaran.

Minggu, 21 Agustus 2011

Bonus Berpuasa Ramadan


Dok. Thinkstock
Oleh: Prof Dr KH Achmad Satori Ismail/Republika
"Watak manusia memang mencintai materi," (QS Ali Imran: 14). "Walaupun kesenangan materi adalah palsu dan menipu," (QS Ali Imran: 185, al-Hadid: 20). "Dan, jika dia tenggelam dalam kemateriannya maka posisinya bisa lebih rendah dari binatang," (QS al A'raf 179).
Memang manusia harus seimbang antara materi dan rohani. Namun orang yang bisa melepaskan diri dari kekuasaan materi akan naik ke derajat malaikat. Saat orang berpuasa berusaha untuk meninggalkan kemateriannya dan menuju alam malakut. Sehingga Allah menyanjungnya dalam hadis Qudsi yang artinya:  "Setiap amalan anak cucu Adam adalah baginya kecuali puasa. Puasa adalah milik-Ku dan Aku akan langsung membalasnya. Puasa adalah perisai, jika salah seorang berpuasa jangan berkata kotor dan jangan bertengkar. Bila dihina seorang atau diajak duel, hendaknya menjawab: aku sedang puasa ..." (HR Bukhari, Muslim, an-Nasa'i, dan Ibnu Hibban dari Abu Hurairah).
Itulah bonus bagi orang yang puasa Ramadhan. Agar manusia yang materialis ini bisa tawazun (seimbang), Allah memberi motivasi dengan berbagai cara. Sebagai makhluk ekonom, ia tertarik dengan segala bentuk transaksi yang menguntungkan. Untuk itu Al Quran banyak menggunakan istilah ekonomi, seperti istilah transaksi (as-Shaf: 10), rugi dan timbangan (ar-Rahman: 9) dan lainnya.
Supaya umat Islam di bulan Ramadan mencapai puncak dalam ibadah maka Allah menyediakan beragam bonus. Rasulullah SAW bersabda, "Umatku diberi lima keistimewaan pada bulan Ramadan yang tidak diberikan kepada umat sebelum mereka:  Bau mulutnya orang-orang puasa lebih wangi di sisi Allah dibandingkan bau minyak kasturi. Setiap hari malaikat memintakan ampunan bagi mereka saat berpuasa sampai berbuka."
Allah menghiasi surga untuk mereka kemudian berfirman: "Hamba-hamba Ku yang saleh tengah melepaskan beban dan kesulitan maka berhiaslah, setan-setan dibelenggu sehingga tidak bisa menggoda dan orang-orang puasa diampuni dosa-dosa mereka pada malam terakhir bulan Ramadan." (HR Ahmad, Al-Bazzar, Al-Baihaqi).
Selain itu pada malam pertama Ramadan setan dibelenggu, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup dan penyeru dari langi memanggil, "Wahai pencari kebaikan, songsonglah dan wahai pencari kejahatan berhentilah! Dan Allah membebaskan banyak manusia dari neraka setiap malam Ramadan."
Orang yang berpuasa diberi keistimewaan dengan dua kebahagiaan, yakni kebahagiaan saat berbuka dan saat bertemu dengan Allah di surga. Di surga ada pintu yang disiapkan untuk orang puasa, yaitu pintu Ar-Rayyan. Bila para shoimin di dunia telah masuk, semua pintu ditutup dan tidak ada yang masuk lagi selain mereka.
Lebih dari itu, di bulan suci ini, Allah menyediakan satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, yaitu Lailatul Qadar(malam kemuliaan). Barang siapa yang tidak mendapat kebaikan malam itu sungguh dia termasuk orang celaka. Demikian besar bonus yang disediakan Allah pada setiap Ramadan.
Tidak cukupkah bagi kita untuk bermujahadah dalam beribadah demi menyongsong keutamaannya? Boleh jadi di antara kita, ada yang tidak bertemu kembali dengan bonus-bonus Ramadan.

Ramadan Momentum untuk Stop Merokok


Dok. Thinkstock
Sumber: Republika
Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Malaysia, Datuk Hasan Abdul Rahman menuturkan bulan suci Ramadan merupakan momentum yang pas bagi perokok untuk berhenti. Menurut dia dari sebuah studi disebutkan 95 persen perokok Muslim mengatakan lebih mudah berhenti merokok selama bulan Ramadan.
“Berpuasa 14 jam secara tidak langsung membantu perokok berhenti merokok lebih mudah karena mereka bisa mengendalikan dorongan untuk merokok,” ujarnya seperti dilansir oleh kantor berita Bernama.
Hasan melanjutkan kalau pihaknya mengintensifkan kampanye anti-merokok dengan mengusung slogan “Ramadan Titik Awal Menuju Berhenti Merokok”.
Dikatakan Hasan, apabila kampanye anti-rokok efektif dilakukan saat Ramadan, dapat dipastikan pemerintah bisa mengurangi pengeluaran untuk subsidi pasien jantung, kanker paru dan penyakit kronis lainnya.
Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), lima juta orang di seluruh dunia meninggal akibat merokok setiap tahunnya. "Jumlah ini tidak termasuk 600.000 non-perokok, termasuk 150.000 anak-anak yang akan mati dari paparan asap rokok," urainya.
Di 2030  jumlah orang yang meninggal karena rokok akan meningkat lagi yakni 27.400 kematian setiap hari atau 2.280 kematian per jam atau satu kematian setiap tiga detik.

Lima Keutamaan Ramadan


Dok. Thinkstock
Mengenai keutaman saat Ramadan, Imam Ahmad meriwayatkan suatu hadis dari Abu Hurairah RA bahwa Nabi Muhammad SAW pernah bersabda: Pada Ramadan umatku diberi lima perkara yang tidak pernah diberikan pada umat-umat sebelumnya:
Pertama, bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada minyak kesturi.
Kedua, para malaikat selalu memintakan ampunan untuk mereka hingga waktu berbuka.
Ketiga, setiap hari Allah menghiasi surga-Nya sambil berkata, hamba-Ku yang saleh ingin melepas beban dan penderitaan yang mereka rindu untuk memasukinya.
Keempat, pada bulan ini diikatlah setan-setan yang durhaka sehingga mereka tidak leluasa mencapai apa yang dapat dicapainya pada bulan lainnya.
Kelima, mereka diampuni Allah pada malam yang terakhir dari bulan itu.
Lalu para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah itu malam Lailatul Qadar?" Beliau menjawab: "Tidak karena orang yang bekerja itu akan dipenuhi upahnya manakala sudah menyelesaikan pekejaannya."
Bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah SWT daripada bau minyak kesturi. Padahal, bau yang keluar dari mulut ketika perut dalam keadaan kosong merupakan bau yang tidak disenangi orang, namun di sisi Allah hal ini lebih harum dibandingkan parfum jenis apa pun.
Hal ini disebabkan bau tersebut timbul dari ketaatan beribadah kepada-Nya. Segala sesuatau yang timbul dari beribadah dan sikap menaati Allah disukai oleh-Nya dan akan diganti dengan sesuatu yang lebih baik dan lebih mulia.
Tidakkah kita lihat orang yang mati syahid karena membela agama Allah? Dia akan datang pada hari kiamat dengan luka yang mengucurkan darah dan pakaian yang berlumuran darah pula, tetapi dengan aroma harum semerbak.
Kedua, malaikat memintakan ampun bagi mereka hingga mereka berbuka, sedangkan malaikat adalah hamba-hamba Allah yang dimuliakan di sisi-Nya, tidak pernah melanggar perintah-Nya dan selalu melaksanankan apapun yang diperintahkan-Nya. Sudah sewajarnya Allah mengabulkan permohonan mereka untuk orang-orang yang bepuasa itu, yang memang sudah diizinkan oleh-Nya.
Allah SWT mengizinkan para malaikat memintakan ampunan untuk orang-orang yang beriman dari kalangan umat Islam adalah demi menghormati mereka, meningggikan sebutannya dan menampakkan keutamaan puasa mereka.
Ketiga, Allah SWT menghiasi surga-Nya setiap hari seraya berkata hamba-hamba Ku yang saleh ingin melepas beban dan penderitaannya serta mereka sangat ingin memasukimu. Allah menghiasi surga setiap hari merupakan persiapan untuk menyambut hamba-Nya yang baik dan menambah semangat mereka agar semakin berkeinginan untuk memasukinya.
Keempat, setan diikat dengan rantai dan dibelenggu sehingga mereka tidak dapat menyesatkan hamba-hamba Allah yang saleh dan tidak bisa menghalangi mereka dari kebaikan.
Kelima, Allah SWT mengampuni seluruh dosa umat Muhammad pada akhir bulan ini apabila mereka melaksanakan apa-apa yang seharusnya mereka laksanakan, baik berupa puasa maupun shalawat sebagai suatu keutamaan dari-Nya.
Itulah beberapa keutamaan Ramadan yang bisa diraih kita yang menjalankan ibadah puasa dengan benar dan ikhlas.

Hukum Bermesraan di Bulan Ramadan


Dok. Thinkstock
Sumber: Ustad H. Zulhamdi M. Saad, Lc/Republika
Tanya:
Assalamualaikum Pak Ustad, Jika di malam hari Ramadan ,suami saya minta berhubungan intim, apakah boleh? Terima kasih.
Wassalam, Indri
Jawab:
Wa'alaikumussalam Wr. Wb,
Ibu Indri yang dirahmati Allah,
Salah satu rahmat dan kasih sayang Allah kepada hamba-hambah-Nya, Allah SWT menghalalkan malam-malam puasa Ramadan bagi seorang suami untuk mencampuri istrinya.
Hal ini disebutkan dalam firman-Nya surat Al-Baqarah ayat 187:  "Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu. Mereka adalah pakaian bagimu dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma'af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa."
Ayat di atas merupakan dalil diperbolehkannya untuk makan, minum dan melakukan hubungan suami istri sampai datangnya waktu fajar. Dan diwajibkan bagi mereka berdua untuk mandi sebelum melaksanakan salatt Shubuh. Waallahu a'lam bisshowab.
Wassalam

Selasa, 16 Agustus 2011

Salah Satu Mukjizat Al Quran



Dok. Thinkstock
Sumber: Republika
Tatkala merujuk kepada matahari dan bulan di dalam Al Quran, ditegaskan bahwa masing-masing bergerak dalam orbitnya atau garis edarnya masing-masing.
"Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya." (QS Al-Anbiyaa: 33).
Disebutkan pula dalam ayat yang lain bahwa matahari tidaklah diam, tetapi bergerak dalam garis edar tertentu: "Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui." (QS Yasin :38).
Fakta-fakta yang disampaikan dalam Al Quran ini telah ditemukan melalui pengamatan astronomis di zaman kita. Menurut perhitungan para ahli astronomi, matahari bergerak dengan kecepatan luar biasa yang mencapai 720 ribu kilometer per jam ke arah bintang Vega dalam sebuah garis edar yang disebut Solar Apex.
Ini berarti matahari bergerak sejauh kurang lebih 17.280.000 kilometer dalam sehari. Bersama matahari, semua planet dan satelit dalam sistem gravitasi matahari juga berjalan menempuh jarak ini. Selanjutnya semua bintang di alam semesta berada dalam suatu gerakan serupa yang terencana.
Sebagaimana komet-komet lain di alam raya, seperti komet Halley juga bergerak mengikuti orbit atau garis edarnya yang telah ditetapkan. Komet ini memiliki garis edar khusus dan bergerak mengikuti garis edar ini secara harmonis bersama-sama dengan benda-benda langit lainnya.
Keseluruhan alam semesta yang dipenuhi oleh lintasan dan garis edar seperti ini dinyatakan dalam Al Quran sebagai berikut: "Demi langit yang mempunyai jalan-jalan." (QS Adz-Dzaariyat: 7).
Terdapat sekitar 200 miliar galaksi di alam semesta yang masing-masing terdiri dari hampir 200 bintang. Sebagian besar bintang-bintang ini mempunyai planet dan sebagian besar planet-planet ini mempunyai bulan. Semua benda langit tersebut bergerak dalam garis peredaran yang diperhitungkan dengan sangat teliti.
Selama jutaan tahun masing-masing seolah 'berenang' sepanjang garis edarnya dalam keserasian dan keteraturan yang sempurna bersama dengan yang lain. Selain itu sejumlah komet juga bergerak bersama sepanjang garis edar yang ditetapkan baginya.
Semua benda langit termasuk planet, satelit yang mengiringi planet, bintang dan bahkan galaksi, memiliki orbit atau garis edar mereka masing-masing. Semua orbit ini telah ditetapkan berdasarkan perhitungan yang sangat teliti dengan cermat. Yang membangun dan memelihara tatanan sempurna ini adalah Allah, pencipta seluruh sekalian alam.
Garis edar di alam semesta tidak hanya dimiliki oleh benda-benda angkasa. Galaksi-galaksi pun berjalan pada kecepatan luar biasa dalam suatu garis peredaran yang terhitung dan terencana. Selama pergerakan ini, tak satupun dari benda-benda angkasa ini memotong lintasan yang lain atau bertabrakan dengan lainnya. Bahkan telah teramati bahwa sejumlah galaksi berpapasan satu sama lain tanpa satu pun dari bagian-bagiannya saling bersentuhan.
Dapat dipastikan bahwa pada saat Al Quran diturunkan manusia tidak memiliki teleskop masa kini ataupun teknologi canggih untuk mengamati ruang angkasa berjarak jutaan kilometer. Tidak pula pengetahuan fisika ataupun astronomi modern. Karenanya saat itu tidaklah mungkin untuk mengatakan secara ilmiah bahwa ruang angkasa 'dipenuhi lintasan dan garis edar' sebagaimana dinyatakan dalam ayat tersebut. Akan tetapi hal ini dinyatakan secara terbuka kepada kita dalam Al Quran yang diturunkan pada saat itu: karena Al Quran adalah firman Allah.

Salat Menjaga Orbit Spiritual



Dok. Thinkstock
Berbeda dari perintah puasa, zakat dan haji, perintah salat wajib dilaksanakan setiap hari sebanyak lima waktu. Belum lagi berbagai anjuran salat sunah seperti halnya tarawih di bulan Ramadan.
Beberapa teman non-muslim sering berkomentar, menjadi orang muslim itu berat, terutama melaksanakan perintah salat setiap harinya. Mengapa tidak cukup berdoa saja? Begitulah tanpa dilandasi iman, kesadaran dan disiplin tinggi, sungguh berat menjaga kontinuitas salat.
Tetapi jika kita amati, kalaupun seseorang enggan menjaga konsisteni salat lima waktu, hidup inipun selalu terikat dengan ritual keduniaan yang rutin. Sejak dari mandi, berpakaian, sarapan pagi, membaca koran, nonton televisi, menelepon teman dan sekian ritual keduniaan lain yang juga memakan waktu sebagaimana salat.
Belum lagi ritual mingguan, bulanan dan tahunan, selalu saja manusia kreatif menciptakan dan menjaganya, misalnya pesta ulang tahun kelahiran. Jadi kalau alasan enggan salat karena waktu, sesungguhnya kurang logis karena sebagai contoh untuk melaksanakan salat Isya kurang dari sepuluh menit. Soal tempat pun cukup fleksibel.
Satu di antara dampak positif dari salat adalah seseorang selalu diingatkan dan terikat pada pusat orbit Ilahi. Bayangkan saja, ibarat sebuah pesawat terbang yang menjelajahi ruang angkasa, sang pilot mesti taat pada garis orbitnya agar tidak tersesat dan kehilangan arah.
Begitu pula dalam hidup ini, dari bangun pagi sampai malam hendak tidur, kita bertemu dengan berbagai macam orang, situasi, serta godaan yang potensial menjauhkan diri kita dari orbit kebenaran. Maka idealnya dengan salat seseorang kembali ke orbit yang benar dan berkonsultasi pada Allah menyampaikan laporan rasa syukur, mohon kekuatan serta bimbingan.
Lewat salat diharapkan terjaga keseimbangan hidup untuk meraih kebaikan jasmani maupun rohani.
Dengan menjaga salat yang benar seseorang diharapkan peka dan setia pada rambu-rambu kehidupan yang telah diajarkan para Rasul Tuhan, ibarat pengembara yang selalu memperhatikan lampu lalu lintas serta arah jalan.
Melalui salat seorang hamba melakukan berkomunikasi langsung dengan Tuhan tanpa perantara untuk menyampaikan semua sanjungan, syukur, maupun keluh kesahnya.
Salat juga sebuah pengakuan penghambaan manusia di hadapan Tuhannya, pengakuan kelemahan dan tidak keberdayaannya manusia dihadapan-Nya.
Inna Shalatii Wanusuki Wamahyaaya Wamamaati Lillahi Rabbil 'Aalamiina, Bahwa salatku dan totalitas hidupku dipersembahkan hanya pada Allah. Salat juga mengajarkan kesabaran, kekhusyukan dan fokus atau istiqomah.

Penyebab Terbanyak Batal Puasa



Dok. Thinkstock
Sumber: Liputan 6.com
Penyebab seseorang membatalkan puasanya bisa bermacam-macam. Salah satu penyebab utama orang batal puasa pada pekan pertama Ramadan 1432 Hijriah adalah sakit perut.
Demikian disampaikan Ahli penyakit dalam dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, Dr dr H Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH MMB, di Jakarta belum lama ini.
"Berdasarkan survei di RSCM dan beberapa rumah sakit swasta, hampir 70 persen kasus orang batal puasa pada minggu pertama Ramadan karena sakit perut yang disertai diare. Penyebabnya karena faktor makanan dan lingkungan, faktor kebersihan tangan baik orang yang mengkonsumsi dan orang yang menyiapkan makanan," ujar Ari Fahrial Syam, yang merupakan Spesialis Penyakit Dalam dan Gastroenterologist.
Menurut dia berpindahnya satu bakteri dari satu tempat ke tempat lain dipengaruhi oleh kebersihan tangan kita. Karena itu sangat penting untuk memiliki kebiasaan sehat berupa cuci tangan pakai sabun terutama saat ingin mengonsumsi makanan.
"Mencuci tangan pakai sabun merupakan salah satu cara yang efektif untuk memutus rantai penyebaran penyakit yang disebabkan oleh kuman," lanjut Ari yang juga merupakan Ketua Bidang Advokasi Pengurus Besar Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PB PAPDI).
Penelitian telah membuktikan bahwa cuci tangan dengan menggunakan sabun akan menurunkan angka kejadian diare yang cukup signifikan, seperti hasil studi penelitian oleh Curtis V. Cairncross, yang menunjukkan cuci tangan pakai sabun dapat menurunkan risiko diare hingga 47 persen.
Ia menganjurkan umat Islam yang sedang berpuasa supaya menjaga kebersihan tangan bebas dari kuman agar tetap sehat. "Mereka tahu bahwa cuci tangan pakai sabun sebelum buka puasa dan sahur itu penting, tetapi tanpa disadari ketika waktu sahur dan berbuka tiba mereka terburu-buru mengambil makanan dan lupa cuci tangan. Padahal tangan kotor dan akhirnya terinfeksi penyakit dan tidak bisa beribadah dengan baik," jelasnya.

Minggu, 14 Agustus 2011

Berpuasa dan Bekerja Keras



Dok. Thinkstock
Sumber: Republika
Assalamu'alaikum wr.wb,
Ustad yang dirahmati Allah, saya mempunyai seorang tetangga yang bekerja sebagai buruh bangunan. Dia seorang Muslim. Namun tidak pernah menjalankan ibadah puasa Ramadan. Ketika ditanya alasannya kenapa enggan berpuasa, dia menjawab tidak kuat dan tidak mampu karena pekerjaannya berat. Dalam kondisi tidak berpuasa saja ia mengaku berat melakukan tugasnya, apalagi dalam keadaan puasa.
Yang ingin saya tanyakan, bagaimana hukum meninggalkan puasa di bulan Ramadan dengan uzur tak mampu berpuasa karena beratnya pekerjaan? Lantas apa pula konsekuensi yang harus ia terima, apakah mengganti puasa atau denda?
Atas jawaban ustad, saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.
Wassalamu'alaikum wr.wb.
Abdul Majid
Batu Ceper, Tangerang, Banten
Jawaban:
Wassalamu'alaikum wr.wb,
Pak Abdul Majid, Jazakumullah Khairan atas doanya dan semoga bapak juga dirahmati Allah dan membalas kebaikan bapak yang sangat peduli dengan dakwah dan Muslim, khususnya tetangga bapak yang masih merasa berat menjalankan ibadah puasa.
Puasa Ramadan adalah ibadah yang nilainya sangat tinggi karena Allah sendiri yang menganugerahkan balasannya. Sehingga bila tidak menjalankannya berarti orang kehilangan keutamaan yang besar.
Ia merupakan kewajiban atas setiap Muslim yang mukallaf, kecuali ia sakit atau musafir atau semakna dengan salah satu dari keduanya yang diberi Rukhshah (keringanan) untuk berbuka. Namun wajib mengqadhanya(menggantinya) di hari yang lain.
Pekerja keras bukan termasuk dalam kategori orang yang diringankan untuk berbuka puasa. Berat atau ringannya pekerjaan bukan sebab yang meringankan orang untuk berbuka.
Pekerja keras bila merasa berat menjalankan puasa, agar berusaha mencari pekerjaan lain yang memungkinkannya berpuasa dan mencari nafkah sekaligus atau waktu kerjanya dialihkan ke malam hari.
Bila ia tidak menemukan pekerjaan ringan sedangkan ia wajib menafkahi dirinya dan keluarganya, maka ia harus mencoba dulu berpuasa dan wajib berniat puasa sejak malam hari, kemudian bekerja seperti biasa dalam kondisi berpuasa.
Bersahurlah dengan porsi makanan yang menguatkan dan menjaga stamina tubuh. Ketika ia mengalami kesulitan dan benar-benar tidak mampu melanjutkan puasa dengan isyarat tanda-tanda awal yang muncul pada fisiknya, seperti lemas sekali dan kehilangan tenaga, pada kondisi demikian ia boleh berbuka, namun wajib mengqadhanya di hari lain.
Dalam kondisi tetap kuat berpuasa dan tidak mengalami kesulitan, maka wajib atasnya untuk meneruskan dan menyempurnakan puasanya hingga tenggelam matahari.
Wallahu A'lam Bishshawwab,
DR H Tajuddin Pogo, MA

Beramal Jangan Cuma di Bulan Puasa



Dok. Thinkstock
Sumber: Republika
Selama Ramadan tingkat beramal masyarakat sangat tinggi. Sayangnya kecenderungan itu menurun saat 11 bulan berikutnya. "Ini yang jadi masalah," kata President Direktur, Dompet Dhuafa, Ismail Agus Said, kepada Republika.
Ia mengatakan beramal kepada sesama tidak perlu menunggu bulan suci Ramadan. Sebab beramal atau berbagi bisa dilakukan kapan pun.
Menurut Ismail kecenderungan itu tidak salah. Tapi akan lebih baik apabila aktivitas sosial tidak perlu menunggu Ramadan tiba. Dengan demikian mereka yang berhak dapat segera terbantu. "Saya pikir, lantaranan pahalanya lebih besar, maka masyarakat lebih memilih beramal saat Ramadan," imbuhnya.
Salah satu solusinya ialah Lembaga Amal dan Zakat (LAZ) agar lebih aktif lagi dalam mengajak masyarakat. Misalnya dengan selalu mengedepankan program yang sedang berjalan lalu diberitahukan kepada para donatur untuk turut menyumbang. "Para donatur kita kan masih pasif, jadi LAZ harus lebih aktif lagi menarik masyarakat untuk beramal," jelasnya.
Sementara itu sampai hari ke 10 Ramadan, Dompet Dhuafa telah menjalin kerjasama dengan 10 perusahan nasional untuk menyalurkan bantuan kepada mereka yang berhak. Kondisi itu serupa dengan Ramadan tahun lalu. "Selama Ramadan pasti kita sibuk, apalagi banyak perusahaan yang hendak menyalurkan bantuan," urainya.
Bantuan yang diberikan cukup bervariasi. Mereka ada yang memberi bantuan tunai dan makanan. Namun yang paling banyak diminta adalah buka bersama anak yatim piatu.
Untuk Ramadan kali ini, Dompet Dhuafa menargetkan penyaluran bantuan senilai Rp 60 miliar. Setiap bantuan yang diberikan akan disesuaikan dengan sasaran secara merata. "Tahun lalu saja bisa Rp 220 miliar. Artinya apa, masyarakat mulai giat beramal. Tapi yaitu tadi diharapkan jangan di bulan Ramadan saja," pungkasnya.

Efek Puasa Terhadap Otak Manusia



Dok. Thinkstock
Sumber: Tribun News
Ada anggapan berpuasa membuat orang lemas hingga orang berpuasa akan semakin malas berpikir atau dengan kata lain membuat orang semakin bodoh. Namun ternyata fakta itu tidak benar.
Menurut Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sumatera Utara, Prof Ahmad Fadil berpuasa sebenarnya membuat seseorang semakin cerdas. Hal itu diungkapkannya saat memberikan tausiyah pada acara buka puasa bersama di Kantor Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara, Jalan AH Nasution, Medan belum lama ini.
Menurut Ahmad Fadil, berdasarkan hasil penelitian, orang lapar orang lebih cerdas dibanding orang yang tidak lapar. "Itu mengapa orang yang tinggal di negerinya sendiri tidak lebih sukses dibanding yang merantau," ujarnya.
Bagi perantau tantangan hidupnya lebih besar. Pada saat banyak tantangannya, otak akan bekerja lebih keras dan akan menjadi lebih cerdas. "Sehingga salah kalau berpendapat kalau puasa makin bodoh, sebenarnya kenyanglah yang membuat orang jadi bodoh, karena cenderung malas," ungkapnya.
Ia pun mengajak para jamaah buka puasa bersama untuk lebih memaksimalkan akalnya pada saat berpuasa untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Serta berharap puasa yang hanya tersisa dua puluh hari lagi tidak disia-siakan.

Banyak Program Sahur di TV Tidak Islami



Dok. Thinkstock
Sumber: Republika
Ulama Sumatera Barat Prof. Syamsul Bahri Khatib menilai tayangan waktu sahur dan berbuka terutama acara komedi hanya memberikan hiburan, namun tidak memberikan pencerahan dan tidak mengajak masyarakat untuk lebih dekat dengan Allah.
"Tayangan televisi saat sahur dan berbuka lebih banyak menampilkan program komedi yang minim nilai relijius dan jauh dari nilai-nilai Ramadan," jelas Syamsul Bahri Khatib yang juga menjabat sebagai ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Barat di Padang.
"Hal itu juga bertentangan dengan nilai-nilai Ramadan di mana seharusnya lebih banyak ditayangkan program yang membuat penonton semakin dekat kepada Allah, memberikan nilai-nilai yang baik serta pencerahan bagi masyarakat dan menjadikan mereka semakin menghayati nilai-nilai Ramadan," imbuhnya.
Syamsul yang juga staf pengajar Intitut Agama Islam Negri (IAIN) Imam Bonjol Padang melanjutkan, penyelenggara televisi berusaha mengemas acara yang menarik agar banyak ditonton masyarakat. Jika acara yang ditayangkan mendapat rating tinggi akan menunjang keberlangsungan hidup stasiun televisi tersebut.
"Namun jangan sampai karena mengejar rating, nilai-nilai dan pesan Ramadan yang hendak disampaikan menjadi bias," imbuhnya.
Ia berpesan kepada masyarakat agar lebih selektif dalam memilih acara televisi saat Ramadan. "Sebaiknya menonton acara yang memiliki nilai kebaikan dan meningkatkan ilmu dan pemahaman terhadap agama," tandasnya.